Selain Kuliner, Kamu Bisa Menikmati Wisata Budaya Ini di Cirebon

Kebudayaan dan seni yang sangat layak kamu nikmati saat liburan ke Cirebon.

Tari adat Cirebon

Photo by Ali Yahya on Unsplash

Masih seputar wisata Cirebon, melanjutkan artikel sebelumnya, dimana kami telah coba rangkumkan 5 hal yang bisa kamu lakukan saat berlibur di Cirebon, dan kali ini kami ingin membagi cerita lebih lanjut, tentang kebudayaan dan seni yang sangat layak kamu nikmati saat liburan ke Cirebon, untuk melengkapi rencana perjalanan kamu.

1. Seni Tari Cirebon

Tari Tayub

Atau kerap dikenal dengan nama Tayuban, konon tarian ini lahir di lingkungan kraton dan digunakan untuk menghormati tamu-tamu agung juga digunakan untuk acara-acara penting seperti pelakrama agung (perkawinan keluarga Sultan), tanggap warsa, peringatan ulang tahun, papakan, atau sunatan putra dalem.

Tari Tayub
Photo by tantyadwiaprianti.blogspot.com

Tari Tayub atau Tayuban kini telah menyebar dan berkembang di masyarakat.

Tari Topeng

Tari Topeng ini sudah ada jauh sejak abad 10-11M yaitu pada masa pemerintahan Raja Jenggala di Jawa Timur yaitu Prabu Panji Dewa. Seperti halnya Tari Tayub, Tari Topeng juga pada mulanya hanya menjadi tontonan di lingkungan Kraton sebagai tuntunan dalam penyebaran ajaran agama Islam kepada masyarakat.

Tari Topeng
Photo by Gapuranews

Melalui seniman jalanan seni Tari Topeng ini masuk ke Cirebon dan mengalami akulturasi dengan kebudayaan setempat.

Pada masa Kerajaan Majapahit dimana Cirebon sebagai pusat penyebaran agama islam, Sunan Gunung Jati bekerja sama dengan Sunan Kalijaga menggunakan Tari Topeng ini sebagai salah satu upaya untuk menyebarkan agama islam dan sebagai hiburan di lingkungan Keraton.

Tari Sintren (Tari Lais)

Tari Sintren
Photo by Adira

Kesenian Sintren dikenal sebagai tarian dengan aroma mistis/magis yang bersumber dari cerita cinta kasih Sulasih dengan Sulandono. Kata Sintren di bangun oleh 2 kata yaitu si dan tren, “si” atau “ia” dan tren atau tri yang berarti “putri”, jadi arti dari sintren adalah “ia putri”, maksudnya yang sebenarnya menari bukan lah si penari sintren, namun roh seorang putri, yaitu sulasih, atau biasa di sebut Rr. Ratnamsari. Kesenian Sintren dikenal juga dengan nama lais.

Sintren harus diperankan seorang gadis yang masih suci, dibantu oleh pawang dengan diiringi gending 6 orang. Dalam perkembangannya tari sintren sebagai hiburan budaya, kemudian dilengkapi dengan penari pendamping dan bodor (lawak).

Konon dikisahkan Sulandono sebagai putra Ki Bahurekso Bupati Kendal yang pertama hasil perkawinannya dengan Dewi Rantamsari yang dijuluki Dewi Lanjar. Raden Sulandono memadu kasih dengan Sulasih seorang putri dari Desa Kalisalak, namun hubungan asmara tersebut tidak mendapat restu dari Ki Bahurekso, akhirnya R. Sulandono pergi bertapa dan Sulasih memilih menjadi penari. Meskipun demikian pertemuan di antara keduanya masih terus berlangsung melalui alam gaib.

2. Wisata Sejarah Cirebon

Ada banyak sekali nilai sejarah yang bisa kamu pelajari dari Cirebon, paling mudah kamu bisa menemukannya di Keraton Kasepuhan.

Seperti yang sudah kami singgung pada artikel sebelumnya, dimana Keraton Kasepuhan ini merupakan bangunan tertua bernilai sejarah yang paling terawat. Dan disini kami akan ajak kamu berkeliling.

Mari kami pandu masuk.

Siti Inggil
Photo by Radar Cirebon

Area pertama keraton disebut dengan “siti inggil” yang berarti “tanah tinggi”, lokasinya memang sedikit lebih tinggi dibandingkan area lainnya. Di area ini kita akan langsung disambut dengan dinding-dinding bata merah. Di sini pula kita bisa melihat berbagai tempat dahulu prajurit kesultanan berlatih, tempat penasihat Sultan, sampai tempat untuk menghadap Sultan.

Mari lanjutkan perjalanan, kita akan masuk ke area utama keraton. Ada taman dengan nama bunderan dewandaru, ya benar seperti nama memang taman ini bentuk bunder (lingkaran).

Bunderan Dewandaru
Photo by ahzavanitour.blogspot.com

Di sini kita bisa menemukan dua patung macan putih yang merupakan hadiah dari Kerajaan Pajajaran, khas sekali. Selain itu ada juga dua buah meriam yang diberi nama Ki Santomodan Nyi Santoni.

Tidak jauh dari bunderan, ada bangunan induk keraton yang menjadi tempat Sultan bertakhta saat ini. Sayangnya, kita hanya bisa mengintipnya dari jendela pintu, sebab tempat ini tidak dibuka untuk umum. Adapun yang dipersilakan masuk adalah tamu-tamu dari Sultan.

Tempat yang cukup menarik perhatian adalah Museum Benda Kuno, yang merupakan tempat penyimpanan benda-benda kuno dari Keraton Kasepuhan.

Museum Benda Kuno Keraton Kasepuhan Cirebon
Photo by Indonesiakaya.com

Tempat yang wajib dikunjungi di area ini adalah Museum Kereta, sebab di dalamnya ada kereta kencana yang disebut sebagai “Kereta Singa Barong” milik kesultanan.

Kereta Singa Barong Keraton Kasepuhan
Photo by RakyatJabarNews.com

Kereta ini memiliki nilai filosofis yang mendalam lho, seperti trisula yang menandakan tiga elemen manusia (cipta, rasa, karsa); kemudian bentuk belalai gajah yang menandakan persahabatan Kesultanan Cirebon/Kasepuhan dengan negara India, bentuk kepala naga yang melambangkan persahabatan dengan China, dan sayap yang melambangkan persahabatan dengan Mesir. Kereta ini pun (pada masanya) tidak boleh sembarang ditarik, hanya kerbau albino yang boleh menariknya. Kereta ini merupakan salah satu koleksi istimewa di Keraton Kasepuhan, sebab bentuknya artistik sekali. Anda perlu datang dan melihatnya.

3. Seni Mbatik, Batik Megamendung yang Legendaris

Pasti kamu sudah tau dong motif batik yang populer asal Cirebon? Ya betul, Megamendung. Berkunjunglah ke Kampung Batik Trusmi untuk membelinya sebagai oleh-oleh. Di kampung ini banyak sekali toko dan pengrajin batik.

Danny O Donoghue The Script pakai batik megamendung
Danny O Donoghue The Script pakai batik Megamendung, Photo by Okezone

Asal-usul motif batik Megamendung

Sejarah timbulnya motif megamendung berdasarkan literatur yang ada, mengarah pada sejarah kedatangan bangsa China ke wilayah Cirebon. Konon pelabuhan Muara Jati di Cirebon merupakan tempat persinggahan para pendatang dari dalam dan luar negeri. Tercatat dalam sejarah, bahwa Sunan Gunung Jati yang menyebarkan agama Islam di wilayah Cirebon pada abad ke-16, menikahi Ratu Ong Tien dari China. Beberapa benda seni yang dibawa dari China seperti keramik, piring dan kain berhiaskan bentuk awan.

Dalam paham Taoisme, bentuk awan melambangkan dunia atas. Bentuk awan merupakan gambaran dunia luas, bebas dan mempunyai makna transidental (Ketuhanan). Konsep mengenai awan juga berpengaruh di dunia kesenirupaan Islam pada abad ke-16, yang digunakan kaum Sufi untuk ungkapan dunia besar atau alam bebas.

Pernikahan Sunan Gunung Jati dengan Ratu Ong Tien menjadi pintu gerbang masuknya budaya dan tradisi China ke keraton Cirebon. Para pembatik keraton menuangkan budaya dan tradisi China ke dalam motif batik yang mereka buat, tetapi dengan sentuhan khas Cirebon, jadi ada perbedaan antara motif megamendung dari China dan yang dari Cirebon. Misalnya, pada motif megamendung China, garis awan berupa bulatan atau lingkaran, sedangkan yang dari Cirebon, garis awan, lancip dan segitiga.

Sejarah batik di Cirebon juga terkait dengan perkembangan gerakan tarekat yang konon berpusat di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Membatik pada awalnya dikerjakan oleh anggota tarekat yang mengabdi di keraton sebagai sumber ekonomi untuk membiayai kelompok tarekat tersebut. Para pengikut tarekat tinggal di desa Trusmi dan sekitarnya. Desa ini terletak kira-kira 4 km dari Cirebon menuju ke arah barat daya atau menuju ke arah Bandung. Oleh karena itu, sampai sekarng batik Cirebon identik dengan batik Trusmi.

Demikian cerita kami untuk seni dan budaya dari Cirebon yang bisa kamu nikmati saat berkunjung ke kota ini, kami berharap kamu dapat membantu kami melengkapi cerita ini di kolom komentar, dan btw selamat berlibur di Cirebon!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Leave a comment
error: Alert: Mau copas ya !! Jangan dong, hargai kami!
scroll to top