Bukan Dokter yang Dipesan
Bapak ingin saya jadi dokter. Saya jadi pelukis. Percakapan terakhir kami tentang itu terjadi di rumah sakit — dengan posisi yang tidak pernah kami bayangkan.
Bapak tidak pernah secara langsung bilang ia kecewa saya tidak jadi dokter. Ia tidak perlu mengatakannya — ada banyak cara untuk menyampaikan sesuatu tanpa kata-kata, dan keluarga kami sangat mahir dalam seni itu.
Cara ia diam setiap kali saya cerita tentang pameran. Cara ia mengalihkan topik ke sepupu saya yang baru lulus kedokteran. Cara ia menjawab oh ketika saya bilang lukisan saya terjual — satu kata, datar, tidak naik tidak turun.
Saya melukis sejak SMP. Waktu saya memilih jurusan seni rupa di universitas, ia diam selama dua hari. Waktu saya lulus dan memutuskan mencoba hidup dari melukis, ia bertanya sekali: Ini sudah dipikir matang?
Sudah, Pak.
Ia tidak bertanya lagi. Tidak setuju, tidak tidak setuju.
Kami hidup begitu bertahun-tahun. Ada topik-topik yang kami tahu tidak perlu dibuka karena tidak akan menghasilkan apa-apa yang baik.
Percakapan itu akhirnya terjadi dua tahun lalu. Bapak masuk rumah sakit, tidak darurat tapi cukup serius untuk membuatnya berbaring beberapa hari. Hari ketiga, sore hari, bapak berkata: Gambarmu yang di ruang tamu rumah — yang bunga-bunga itu — setiap pagi aku lihat itu dulu sebelum keluar.
Saya tidak langsung mengerti maksudnya.
Sudah sepuluh tahun dipasang di sana, ia melanjutkan. Belum bosen lihatnya.
Ini bukan permintaan maaf. Bapak tidak mengucapkan kata maaf dalam percakapan itu. Mungkin tidak akan pernah. Tapi bagi orang yang sepanjang hidupnya lebih banyak diam daripada bicara, kalimat itu adalah sesuatu.
Saya bilang terima kasih. Ia berdehem dan mengalihkan pandangan ke televisi.
Kami tidak pernah bicara tentang itu lagi. Tapi setelah itu, cara ia diam ketika saya cerita tentang pameran sedikit berbeda. Diam yang lebih ringan.
Lukisan bunga itu masih di ruang tamu rumah bapak. Saya melukisnya waktu kelas satu SMA, dengan cat yang tidak mahal dan kuas yang tidak bagus.
Tapi ia melihatnya setiap pagi selama sepuluh tahun.
Mungkin itu sudah cukup untuk disebut berhasil.
Cara ia diam setiap kali saya cerita tentang pameran. Cara ia mengalihkan topik ke sepupu saya yang baru lulus kedokteran. Cara ia menjawab oh ketika saya bilang lukisan saya terjual — satu kata, datar, tidak naik tidak turun.
Saya melukis sejak SMP. Waktu saya memilih jurusan seni rupa di universitas, ia diam selama dua hari. Waktu saya lulus dan memutuskan mencoba hidup dari melukis, ia bertanya sekali: Ini sudah dipikir matang?
Sudah, Pak.
Ia tidak bertanya lagi. Tidak setuju, tidak tidak setuju.
Kami hidup begitu bertahun-tahun. Ada topik-topik yang kami tahu tidak perlu dibuka karena tidak akan menghasilkan apa-apa yang baik.
Percakapan itu akhirnya terjadi dua tahun lalu. Bapak masuk rumah sakit, tidak darurat tapi cukup serius untuk membuatnya berbaring beberapa hari. Hari ketiga, sore hari, bapak berkata: Gambarmu yang di ruang tamu rumah — yang bunga-bunga itu — setiap pagi aku lihat itu dulu sebelum keluar.
Saya tidak langsung mengerti maksudnya.
Sudah sepuluh tahun dipasang di sana, ia melanjutkan. Belum bosen lihatnya.
Ini bukan permintaan maaf. Bapak tidak mengucapkan kata maaf dalam percakapan itu. Mungkin tidak akan pernah. Tapi bagi orang yang sepanjang hidupnya lebih banyak diam daripada bicara, kalimat itu adalah sesuatu.
Saya bilang terima kasih. Ia berdehem dan mengalihkan pandangan ke televisi.
Kami tidak pernah bicara tentang itu lagi. Tapi setelah itu, cara ia diam ketika saya cerita tentang pameran sedikit berbeda. Diam yang lebih ringan.
Lukisan bunga itu masih di ruang tamu rumah bapak. Saya melukisnya waktu kelas satu SMA, dengan cat yang tidak mahal dan kuas yang tidak bagus.
Tapi ia melihatnya setiap pagi selama sepuluh tahun.
Mungkin itu sudah cukup untuk disebut berhasil.