Cinta di Umur Tiga Puluhan
Saya jatuh cinta untuk pertama kalinya di umur tiga puluh dua. Ternyata sama sekali tidak seperti yang saya bayangkan waktu dua puluh tahun.
Waktu berumur dua puluh tahun, saya punya gambaran yang jelas tentang jatuh cinta. Dari novel, dari film, dari lagu-lagu yang liriknya saya hafal tanpa sengaja. Jatuh cinta adalah sesuatu yang intens dan dramatis dan kamu tahu langsung ketika itu terjadi.
Di umur tiga puluh dua, yang terjadi adalah ini: saya menyadari saya jatuh cinta ketika sedang mengantri di kasir supermarket, dan tiba-tiba saya berpikir, dia pasti suka keju yang ini.
Tidak ada momen dramatis. Tidak ada lagu yang pas. Hanya saya di depan rak keju, memikirkan orang lain.
Saya tidak mau langsung menyebutnya cinta. Saya sudah di usia di mana saya tidak terburu-buru memberi nama pada sesuatu. Jadi saya amati.
Yang saya amati: ketika ia bercerita tentang sesuatu yang ia temukan menarik, saya ingin ia terus bercerita. Bukan karena topiknya selalu menarik, tapi karena cara ia bercerita membuat apapun terdengar penting.
Ketika kami tidak bertemu beberapa hari, ada sesuatu yang terasa kurang — tidak seperti kehilangan yang dramatis, tapi seperti kamu lupa sesuatu di rumah dan baru sadar setengah jalan.
Ketika ia tertawa, ada momen kecil di mana saya pikir: ini.
Tidak seperti di novel. Lebih tenang dari itu. Lebih seperti menemukan sesuatu yang sudah ada di sana, dan baru kamu sadari sekarang.
Saya tidak tahu bagaimana ini akan berakhir. Di umur tiga puluh dua, saya sudah cukup tahu bahwa tidak semua yang dimulai dengan baik berakhir seperti yang diharapkan.
Tapi saya juga sudah cukup tahu bahwa menunggu kepastian sebelum membuka diri adalah cara paling pasti untuk tidak pernah merasakan apapun.
Jadi saya beli keju yang itu. Dan saya ceritakan kepadanya kenapa.
Ia tertawa. Dan saya pikir: ya, ini.
Di umur tiga puluh dua, yang terjadi adalah ini: saya menyadari saya jatuh cinta ketika sedang mengantri di kasir supermarket, dan tiba-tiba saya berpikir, dia pasti suka keju yang ini.
Tidak ada momen dramatis. Tidak ada lagu yang pas. Hanya saya di depan rak keju, memikirkan orang lain.
Saya tidak mau langsung menyebutnya cinta. Saya sudah di usia di mana saya tidak terburu-buru memberi nama pada sesuatu. Jadi saya amati.
Yang saya amati: ketika ia bercerita tentang sesuatu yang ia temukan menarik, saya ingin ia terus bercerita. Bukan karena topiknya selalu menarik, tapi karena cara ia bercerita membuat apapun terdengar penting.
Ketika kami tidak bertemu beberapa hari, ada sesuatu yang terasa kurang — tidak seperti kehilangan yang dramatis, tapi seperti kamu lupa sesuatu di rumah dan baru sadar setengah jalan.
Ketika ia tertawa, ada momen kecil di mana saya pikir: ini.
Tidak seperti di novel. Lebih tenang dari itu. Lebih seperti menemukan sesuatu yang sudah ada di sana, dan baru kamu sadari sekarang.
Saya tidak tahu bagaimana ini akan berakhir. Di umur tiga puluh dua, saya sudah cukup tahu bahwa tidak semua yang dimulai dengan baik berakhir seperti yang diharapkan.
Tapi saya juga sudah cukup tahu bahwa menunggu kepastian sebelum membuka diri adalah cara paling pasti untuk tidak pernah merasakan apapun.
Jadi saya beli keju yang itu. Dan saya ceritakan kepadanya kenapa.
Ia tertawa. Dan saya pikir: ya, ini.