Di Antara Dua Bendera
Sepuluh tahun di Belanda. Terlalu lama untuk menyebut Indonesia rumah, terlalu asing untuk menyebut Belanda rumah. Ada nama untuk kondisi ini, tapi saya lupa namanya.
Ada pertanyaan yang selalu datang di pesta. Orang Belanda bertanya: Where are you from? Orang Indonesia bertanya: Kapan pulang?
Keduanya adalah pertanyaan yang tampaknya sederhana dan tidak ada jawaban yang tepat untuknya.
Saya datang ke Belanda sepuluh tahun lalu untuk studi S2. Rencana asalnya dua tahun. Dua tahun menjadi tiga karena beasiswa lanjutan. Tiga menjadi lima karena pekerjaan yang menawarkan kontrak. Pada titik itu, pulang sudah tidak semudah sebelumnya.
Rumah saya sekarang adalah apartemen di Utrecht dengan jendela besar yang menghadap kanal. Saya sudah hafal jam berapa matahari terbenam di setiap musim.
Ini kehidupan yang nyata dan lengkap. Tapi setiap kali seseorang bertanya where are you from saya menjawab Indonesia, bukan Utrecht.
Dan setiap kali orang Indonesia bertanya kapan pulang, saya tidak tahu harus menjawab apa.
Pulang ke mana? Kota saya di Surabaya sudah berubah. Teman-teman SMA sudah punya kehidupan yang saya tidak masuk di dalamnya. Bahasa gaul yang dipakai di medsos Indonesia kadang saya tidak mengerti, dan itu menyedihkan dengan cara yang sulit dijelaskan.
Tapi di sini juga ada jarak. Jarak yang halus tapi selalu ada di rapat kerja, di pesta, di percakapan kecil tentang hal-hal yang dianggap sudah semua orang tahu.
Ada kata dalam bahasa Portugis untuk ini: saudade. Kerinduan yang tidak jelas ke mana arahnya.
Minggu lalu saya memasak soto ayam untuk teman-teman kantor. Mereka sangat menyukainya. Dan sementara mereka makan, saya duduk di pojok dapur dan mendengar mereka melafalkan soto dengan cara yang tidak akan pernah persis seperti yang saya dengar waktu kecil.
Saya tidak sedih. Saya hanya menyadari: ini adalah versi soto yang hanya ada di apartemen Utrecht saya.
Mungkin rumah bukan satu tempat. Mungkin rumah adalah kumpulan versi-versi dari dirimu yang sudah ada di berbagai tempat, yang semuanya nyata dan semuanya kamu.
Keduanya adalah pertanyaan yang tampaknya sederhana dan tidak ada jawaban yang tepat untuknya.
Saya datang ke Belanda sepuluh tahun lalu untuk studi S2. Rencana asalnya dua tahun. Dua tahun menjadi tiga karena beasiswa lanjutan. Tiga menjadi lima karena pekerjaan yang menawarkan kontrak. Pada titik itu, pulang sudah tidak semudah sebelumnya.
Rumah saya sekarang adalah apartemen di Utrecht dengan jendela besar yang menghadap kanal. Saya sudah hafal jam berapa matahari terbenam di setiap musim.
Ini kehidupan yang nyata dan lengkap. Tapi setiap kali seseorang bertanya where are you from saya menjawab Indonesia, bukan Utrecht.
Dan setiap kali orang Indonesia bertanya kapan pulang, saya tidak tahu harus menjawab apa.
Pulang ke mana? Kota saya di Surabaya sudah berubah. Teman-teman SMA sudah punya kehidupan yang saya tidak masuk di dalamnya. Bahasa gaul yang dipakai di medsos Indonesia kadang saya tidak mengerti, dan itu menyedihkan dengan cara yang sulit dijelaskan.
Tapi di sini juga ada jarak. Jarak yang halus tapi selalu ada di rapat kerja, di pesta, di percakapan kecil tentang hal-hal yang dianggap sudah semua orang tahu.
Ada kata dalam bahasa Portugis untuk ini: saudade. Kerinduan yang tidak jelas ke mana arahnya.
Minggu lalu saya memasak soto ayam untuk teman-teman kantor. Mereka sangat menyukainya. Dan sementara mereka makan, saya duduk di pojok dapur dan mendengar mereka melafalkan soto dengan cara yang tidak akan pernah persis seperti yang saya dengar waktu kecil.
Saya tidak sedih. Saya hanya menyadari: ini adalah versi soto yang hanya ada di apartemen Utrecht saya.
Mungkin rumah bukan satu tempat. Mungkin rumah adalah kumpulan versi-versi dari dirimu yang sudah ada di berbagai tempat, yang semuanya nyata dan semuanya kamu.