Naik Kelas

Gaji Pertama

Saya tahu persis apa yang akan saya lakukan dengan gaji pertama. Ternyata tidak ada satupun yang benar.

Gaji pertama saya masuk tanggal 25. Saya menghitung mundurnya dari tanggal terima offering letter.

Ibu saya tahu gaji saya berapa. Saya yang memberitahunya, karena ia yang paling berjasa saya bisa bekerja di sana. Bukan karena ia punya koneksi — ibu saya operator pabrik, tidak punya koneksi di tempat seperti ini. Tapi karena ia yang membiayai kursus komputer saya tiga tahun lalu, satu juta dua ratus ribu yang ia ambil dari tabungan arisan.

Rencana saya sederhana: transfer setengah ke rekening ibu di hari gajian.

Yang terjadi: saya berdiri di depan ATM selama delapan menit, dengan jari yang tidak bergerak di atas keypad.

Angka di layar itu adalah angka yang sebelumnya hanya ada di angan-angan. Bukan besar — bagi banyak orang mungkin biasa saja. Tapi bagi anak operator pabrik dari Karawang yang pertama kali pegang kartu ATM sendiri di usia dua puluh tiga tahun, angka itu terasa seperti mimpi yang salah masuk ke rekening nyata.

Saya transfer ke ibu. Bukan setengah — tiga perempatnya.

Ibu menelepon lima menit kemudian. Ini terlalu banyak, katanya. Kamu butuh untuk dirimu sendiri.

Saya masih punya cukup.

Hening sebentar. Kemudian: Makasih ya, Nak.

Dua kata itu — bapak saya tidak pernah bilang makasih kepada siapapun selama saya hidup, itu bukan cara keluarga kami berkomunikasi. Ibu juga jarang. Tapi malam itu ia mengatakannya.

Saya duduk di kamar kos yang tidak berubah dari kemarin dan saya menyadari sesuatu yang tidak saya persiapkan untuk rasakan: rasa bersalah.

Bukan karena transfer terlalu banyak. Tapi karena saya sadar: gaji saya bulan ini lebih besar dari gaji ibu setelah dua puluh tahun kerja.

Naik kelas itu nyata. Tapi tidak ada yang memberitahu kamu tentang rasa ganjilnya — ketika kamu melangkah maju dan menyadari jarak antara kamu dan orang-orang yang mengantarmu ke sini tiba-tiba terasa lebih nyata dari sebelumnya.