Sang Penjaga Gerbang
Episode 1 dari 1

Bab 1: Gerbang Pertama di Tanah Priangan

Pukul empat sore, langit di atas Kampung Cireundeu berwarna tembaga pudar, warna yang selalu muncul menjelang hujan turun di penghujung musim kemarau. Raden Aksana Wijaya—yang sejak kecil dipanggil warga kampung cukup dengan "Sana"—berjalan menyusuri galengan sawah dengan karung singkong terpanggul di bahu kanannya. Keringat membasahi kaus lusuhnya, bercampur debu merah yang menempel sejak subuh ia mencangkul kebun.

Hidupnya sederhana, nyaris tanpa warna. Sejak ibunya meninggal karena demam berdarah delapan tahun lalu, dan ayahnya—seorang buruh tani yang merantau ke Kalimantan untuk bekerja di kebun sawit—tak pernah lagi mengirim kabar, Sana dibesarkan oleh neneknya, Nini Emeh, satu-satunya keluarga yang tersisa. Nini Emeh bukan orang biasa; dulu ia dikenal seantero Cireundeu sebagai perempuan yang paham betul ilmu silat maenpo dan pengobatan tradisional, warisan dari kakek buyutnya yang konon pernah mengabdi sebagai punggawa di keraton Sumedang Larang.

Dua tahun lalu, Nini Emeh menyusul ke alam baka. Sejak itu, Sana hidup sebatang kara, menyambung hidup dari hasil kebun singkong peninggalan neneknya dan sesekali menjadi buruh serabutan bagi tetangga yang membutuhkan tenaga.

Ia tak pernah mengeluh. Bagi Sana, hidup memang begitu adanya—berjalan pelan, penuh keringat, tapi tenang.

Sampai sore itu datang dan merobek ketenangannya untuk selamanya.

Suara pertama yang ia dengar bukan guntur, melainkan dengungan berat, seperti seratus gong dipukul bersamaan dari kejauhan lalu meredup perlahan. Sana menghentikan langkah. Beberapa ekor burung kutilang yang tadinya bertengger di pohon kelapa tiba-tiba terbang serentak, berhamburan ke segala arah seolah dikejar sesuatu yang tak kasat mata.

Lalu langit di atas hutan bambu, tepat di perbatasan barat kampung, mulai retak.

Bukan retak seperti kaca pecah. Lebih seperti kain langit yang disobek perlahan oleh tangan tak terlihat, menyingkap warna ungu kehijauan yang berdenyut seperti jantung yang hidup. Sobekan itu melebar, membentuk lengkungan menyerupai gapura candi tua—dengan dua tiang di kiri-kanan dan ambang atas yang melengkung anggun, dipenuhi ukiran-ukiran rumit yang perlahan berputar, seolah dipahat oleh tangan yang tak mengenal waktu.

Karung singkong di bahu Sana jatuh begitu saja ke tanah.

"Ya Gusti..." bisiknya, kaki-kakinya seperti terpaku di galengan sawah.

Ia pernah menonton kejadian semacam ini di layar televisi kecil warung Bi Inah—tayangan berita internasional tentang fenomena yang disebut dunia sebagai Gerbang (di negara lain disebut Gate, Dungeon Gate, atau berbagai istilah lain tergantung bahasanya). Sudah tiga tahun sejak fenomena itu pertama kali muncul di Seoul, lalu menyebar ke Tokyo, Shanghai, hingga New York—robekan realitas yang menghubungkan dunia manusia dengan dimensi lain, tempat monster-monster asing bersemayam.

Bersamaan dengan munculnya Gerbang, sebagian manusia di seluruh dunia mendadak memperoleh kekuatan supranatural—kemampuan bertarung, kekuatan fisik luar biasa, bahkan kemampuan sihir sederhana. Mereka disebut Pemburu (Hunter), direkrut oleh asosiasi-asosiasi resmi di tiap negara untuk menutup Gerbang sebelum monster-monster di dalamnya meluber keluar dan mengamuk di dunia nyata.

Indonesia sendiri sudah beberapa kali kena imbasnya. Dua bulan lalu, sebuah Gerbang muncul di pinggiran Kota Bandung, tak jauh dari Cireundeu. Sana masih ingat berita itu—bagaimana monster berwujud anjing berkepala dua meluluhlantakkan satu RW sebelum tim Asosiasi Pemburu Indonesia (API) datang dan menutup Gerbang tersebut, namun tidak sebelum lebih dari tiga puluh warga tewas.

Tapi yang membuat bulu kuduk Sana meremang bukan sekadar fakta bahwa Gerbang kini muncul di kampungnya sendiri.

Yang membuatnya benar-benar tercekat adalah ukiran di ambang gapura itu.

Bukan aksara Latin. Bukan pula Hangul atau Kanji seperti yang biasa ia lihat di berita-berita Gerbang luar negeri.

Itu aksara Sunda Kuno—aksara yang dulu pernah diajarkan neneknya kepadanya di sela-sela pelajaran maenpo, aksara yang menghiasi lembaran-lembaran lontar tua peninggalan keluarga yang tersimpan di bawah dipan rumah mereka.


Kabar tentang Gerbang menyebar secepat api membakar jerami kering. Dalam hitungan setengah jam, hampir seluruh warga Cireundeu berkumpul di batas sawah, menjaga jarak aman sambil berbisik-bisik cemas. Anak-anak digendong ibu-ibu mereka menjauh. Beberapa lelaki dewasa mengacungkan bambu runcing dan golok, meski semua tahu benda-benda itu nyaris tak berguna melawan monster dari dalam Gerbang.

Ki Wangsa, sesepuh kampung yang usianya sudah melewati tujuh puluh tahun, melangkah maju dengan tongkat bambunya yang gemetar—bukan karena usia tua semata, tapi karena sesuatu yang lebih dalam, semacam firasat yang menggantung berat di dadanya.

Ia menyipitkan mata membaca ukiran di gapura itu, bibirnya bergerak pelan mengeja aksara yang mulai jarang dikenal generasi muda.

"Ini... ini aksara buyut saya," gumamnya, suaranya nyaris tenggelam oleh angin. "Tulisannya: Sing wani asup, kudu boga hate nu beresih."

Beberapa warga saling pandang, tak paham. Sana, yang berdiri paling dekat dengan Ki Wangsa, menerjemahkannya pelan.

"Siapa yang berani masuk," ucap Sana, "harus memiliki hati yang bersih."

Ki Wangsa menoleh kepadanya, matanya menyipit tajam, seolah baru menyadari sesuatu. "Kamu masih inget aksara Sunda buhun, Na? Nini kamu memang ngajarin kamu ti leutik."

Sana tak menjawab. Pandangannya masih terpaku pada gapura yang berdenyut pelan itu, dan entah kenapa, ia merasa seolah gapura itu tengah menatap balik ke arahnya.

"Kumaha ayeuna, Ki?" tanya Pak Ujang, mantan pesilat kampung yang kini telah renta, suaranya berat menahan cemas. "Kudu ngahubungan API teu?"

Ki Wangsa menghela napas panjang. "Sudah saya coba telepon dari tadi. Sinyal di sini oge sesah, Jang. Kalaupun tersambung, pusat API aya di Bandung—paling cepet oge butuh waktu sapoe dua poe pikeun nepi ka dieu. Kampung urang mah lain prioritas maranéhna."

Kata-kata itu menghantam telinga Sana seperti palu. Ia tahu betul apa artinya—kampung-kampung kecil dan miskin seperti Cireundeu selalu berada di urutan terakhir daftar prioritas asosiasi resmi manapun. Bantuan baru datang setelah korban berjatuhan, bukan sebelum.

Ia menatap gapura yang berdiri angkuh di antara rimbunan bambu, ukirannya berputar tenang seakan menunggu, tak peduli berapa lama manusia di luar sana bimbang menentukan sikap.

Ia lalu menatap wajah-wajah warga di sekelilingnya—wajah yang sama yang pernah menampungnya makan ketika ia kelaparan sepeninggal Nini Emeh, wajah yang sama yang mengantarkan jenazah neneknya dengan gotong royong meski hujan deras mengguyur waktu itu, wajah yang selama ini menjadi satu-satunya keluarga yang tersisa baginya di dunia.

Bulan purnama tinggal tiga hari lagi. Ia tahu betul dari berita-berita yang pernah ia tonton—monster-monster dalam Gerbang yang dibiarkan terlalu lama akan menemukan celah untuk merangkak keluar tepat ketika bulan mencapai purnama penuh, seolah cahaya bulan menjadi kunci yang membuka gembok dimensi.

Tiga hari. Dan tak ada satu pun pemburu berpangkat yang akan datang secepat itu.

Sana menghela napas panjang, lalu tanpa sadar tangannya mulai mengencangkan ikat pinggang lusuhnya—kebiasaan kecil yang selalu ia lakukan setiap kali hendak turun ke sawah menghadapi pekerjaan berat.

"Kalau bukan kita yang jaga kampung sorangan," ucapnya pelan, nyaris berbisik, namun cukup jelas terdengar oleh Ki Wangsa yang berdiri di sampingnya, "saha deui?"

Kalau bukan kita yang menjaga kampung sendiri, siapa lagi?

Ki Wangsa menoleh, menatap pemuda di sampingnya lekat-lekat. Ada sesuatu di mata Sana malam itu—bukan keberanian yang meledak-ledak seperti pahlawan dalam cerita wayang, melainkan ketenangan getir milik seseorang yang telah lama terbiasa menanggung beban sendirian, dan kini memutuskan untuk menanggung satu beban lagi.

"Kamu yakin, Na?" tanya Ki Wangsa pelan. "Ieu lain perkara enteng."

Sana menatap gapura yang berdenyut di kejauhan, lalu menatap kembali karung singkong yang tergeletak di tanah—karung yang sedianya akan ia jual esok pagi demi menyambung hidup satu minggu ke depan. Hidup yang sederhana, yang kini terasa begitu kecil dibanding apa yang tengah ia hadapi.

"Teu yakin, Ki," jawabnya jujur. "Tapi kudu aya nu miheulaan."

Tidak yakin, Ki. Tapi harus ada yang memulai.

Malam itu, ditemani cahaya obor dan lampu minyak seadanya, Sana pulang ke rumah panggung kecil peninggalan neneknya. Ia membuka dipan tua di sudut rumah, tempat lembaran-lembaran lontar dan sebilah golok berkarat—satu-satunya warisan berharga yang tersisa dari Nini Emeh—tersimpan rapi dibungkus kain putih.

Ia menggenggam golok itu erat-erat, merasakan beratnya yang akrab di tangan, seolah golok itu mengenali pemiliknya kembali setelah sekian lama teronggok sunyi.

Di luar jendela bambu, bulan mulai menampakkan diri di balik awan tipis—belum purnama, namun sudah cukup bulat untuk mengingatkannya bahwa waktu terus berjalan, tanpa peduli seberapa siap dirinya.

Esok pagi, Sana memutuskan, ia akan memasuki Gerbang itu sendirian.
Kamu sudah selesai membaca semua episode. Lihat halaman cerita

Respons

Belum ada respons. Jadilah yang pertama membagikan pemikiranmu.