Sebuah kebenaran

Senyum hangat yang kurindukan, sampai akhirnya mencintaimu meski tidak bisa kumemiliki

Di saat orang lain berjuang mempertahankan hubungan dengan sosok yang mereka cintai, aku justru memilih untuk pergi meninggalkannya.

"Itu keputusan yang BODOH..."

Ya, bodoh. Sebuah pilihan egois dan tak berperasaan. Itulah jalan keliru yang kuambil demi melindungi pria yang teramat kucintai. Aku tahu, keputusan sepihak yang kuambil tanpa menjelaskan badai apa yang tengah kuhadapi ini akan menorehkan luka yang sangat dalam di hatinya.
Dia adalah pria yang membuatku jatuh cinta lewat caranya menghormatiku sebagai seorang perempuan. Tutur katanya selalu lembut, dan ia sering kali tertangkap basah sedang tersenyum menatapku dengan sorot mata yang begitu hangat dan tulus. Namun, dengan teganya aku menghancurkan hati yang mencintaiku itu.

Langit biru seketika berubah mendung, mentari yang bersinar terang terasa kelam, dan hari-hari yang tadinya hangat menjadi begitu dingin tanpanya. Di mata dunia, cintaku mungkin terlihat palsu. Orang-orang di sekitarku, dan bahkan dirinya sendiri, mungkin memandangku sebagai perempuan jahat yang kejam.
Mereka yang tak mengerti pasti bertanya-tanya, "Kenapa kau tinggalkan dia yang sudah begitu tulus?"
Andai saja saat itu aku bisa sedikit lebih berani dan jujur kepadanya. Namun, rasa takut yang teramat besar telah menguasaiku, takut akan masa depan, dan takut ia akan terseret ke dalam bahaya yang tak seharusnya ia tanggung.

Awal Mula Teror
Beberapa bulan sebelum aku bertemu dengannya, ada seorang laki-laki yang tanpa henti mencoba mendekatiku. Karena aku tak memiliki perasaan apa pun, aku hanya bersikap baik dan menanggapinya sebatas kenalan, lagipula yang kutahu dia hanyalah teman dari temanku. Penolakanku rupanya mengubah lelaki itu menjadi sosok yang mengerikan. Entah dari mana, ia akhirnya mengetahui hubunganku dengan kekasihku.
Teror itu pun dimulai. Awalnya, ia hanya sekadar unjuk gigi, datang ke kampus dan duduk di tempat biasa aku dan teman-temanku makan. Namun, keesokan harinya, semuanya memburuk. Saat hendak pulang, aku mendapati ban belakang mobilku robek di area parkir yang entah mengapa hari itu mendadak sepi tanpa kehadiran tukang parkir. Ketika orang tuaku mengecek rekaman CCTV bengkel, kami terkejut melihat lelaki itu beraksi bersama dua pria tak dikenal.
Dua hari berselang, teror itu memuncak. Di tengah kemacetan lampu merah Senayan menuju pintu tol, sebuah peluru tiba-tiba melesat dan menghantam kaca depan mobilku. Beruntung, mobilku dilengkapi kaca antipeluru. Namun, sekujur tubuhku gemetar hebat; darahku serasa berhenti mengalir, terasa sangat dingin dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Tak berhenti sampai di situ. Sekitar empat hari kemudian, menjelang pukul setengah tujuh malam, ibuku menelepon dengan nada panik. Posisiku saat itu masih di jalan sepulang dari kampus.
"Teh, ada dua laki-laki dan satu perempuan datang ke rumah, titip bunga mawar dan cokelat di satpam. Ibu kenal salah satunya si A, yang lain Ibu nggak kenal. Teteh jangan pulang dulu ya, langsung ke kantor Papa saja," pesannya.
Seketika itu juga aku memutar balik kemudi menuju kantor orang tuaku. Bahkan, setelahnya ada rentetan kejadian ganjil di luar nalar yang mengancam nyawa, yang mungkin sulit dipercaya oleh akal sehat, namun hampir saja merenggut kedua orang tuaku.

Sebuah Pengorbanan
Puncaknya adalah saat aku sedang duduk di lorong kelas sambil mendengarkan musik. Seorang teman yang juga mengenal lelaki peneror itu menepuk pundakku dan berbisik,
"Eh, lo masih sama cowok lo yang anak siang itu ya? Kayaknya kalian nggak bisa lanjut deh. Si A bilang, kalau dia nggak bisa dapetin lo, cowok lo juga nggak boleh. Kalau lo sayang sama cowok lo, mending lo pergi sejauh-jauhnya dari dia, atau dia bakal ikut terseret. Lo inget kan kejadian kemarin-kemarin?"
Dadaku sesak seketika. Mengapa aku yang harus mengorbankan pria yang kusayangi demi memuaskan obsesi gila seseorang? Namun, di sudut hatiku yang paling dalam, ketakutan itu menang. Aku tak rela kekasihku celaka.
Dihantui rentetan teror mengerikan itu, dan dalam keadaan panik, cemas, serta kalut, aku mengambil jalan pintas. Kutinggalkan pria yang sangat kucintai tanpa sedikit pun penjelasan, semata-mata karena aku terlalu takut ia akan terluka.

Pertemuan yang Dingin
Setelah perpisahan itu, kami tak pernah lagi berpapasan di kampus. Mungkin ia sengaja memindahkan jadwal kelasnya demi menghindariku karena ia begitu membenciku.
Hingga suatu hari, saat aku sedang terburu-buru menaiki tangga menuju kelas, langkahku terhenti. Aku tidak sengaja berpapasan dengannya. Ia sedang menuruni anak tangga bersama temannya. Dengan ragu dan jantung berdebar, kuberanikan diri menyapanya. Tanpa sadar, panggilan sayangku untuknya dulu terlontar begitu saja dari bibirku,
"Curut, udah selesai kelas?"
Namun, ia hanya membalas dengan senyum tipis dan sorot mata yang sedingin es. Tatapan dan senyum hangat yang dulu selalu ia berikan untukku telah sirna sepenuhnya. Ya, aku sadar, ia pasti sudah sangat membenciku, dan betapa sialnya ia harus bertemu denganku lagi hari itu.
Andai ia tahu betapa besar rasa sayang dan cintaku padanya. Andai ia tahu betapa takutnya aku kehilangannya. Andai aku tak menjadi pengecut, andai aku mampu mempertahankannya, dan andai aku berani berterus terang kepadanya... Mungkin, sampai detik ini, ia masih seutuhnya milikku.
Seiring berjalannya waktu, sebuah kabar akhirnya sampai ke telingaku: ia akan segera menikah dengan wanita pilihan hatinya.
Orang-orang hanya melihat senyum di wajahku, tanpa pernah tahu pertempuran batin yang kurahasiakan rapat-rapat di balik perasaanku. Kini, setiap luka itu kupeluk dalam diam, sembari terus belajar mencintai diriku sendiri yang perlahan hancur karena tak lagi memilikinya.

Respons

Belum ada respons. Jadilah yang pertama membagikan pemikiranmu.