Warisan yang Tidak Diminta
Ibu meninggalkan toko jahit yang bangkrut. Yang saya terima bukan hanya hutang — tapi juga rahasia tentang mengapa ia tidak pernah menjualnya.
Toko jahit ibu sudah rugi sejak saya SMP. Saya tahu ini karena saya yang menghitung buku kasnya setiap akhir bulan — ibu tidak pandai angka, dan karena tidak ada yang lain yang bisa diminta tolong, tugas itu jatuh ke saya.
Setiap bulan saya menulis angka-angka yang tidak pernah memuaskan. Hutang ke supplier yang setiap bulan sedikit bertambah.
Kenapa tidak dijual saja? saya pernah tanya waktu kelas dua SMA.
Ibu tidak menjawab langsung. Ia sedang memotong kain, dan ia melanjutkan memotong selama beberapa detik sebelum berkata: Nanti.
Nanti tidak pernah datang. Ibu pergi dua tahun lalu dengan toko jahit itu masih ada, masih rugi, masih buka setiap pagi meskipun pelanggan yang datang bisa dihitung dengan satu tangan.
Saya yang mewarisinya.
Selama satu bulan pertama, saya pikir saya akan menjualnya. Tapi kemudian saya mulai membereskan toko dan saya menemukan buku catatan ibu.
Bukan buku kas. Di dalamnya ia mencatat nama-nama. Nama dan cerita singkat.
Bu Hartini, 3 Maret 1998. Suaminya baru kena PHK. Saya jahitkan kebaya untuk acara kondangan anaknya, tidak saya tagih.
Mbak Yuli, 15 Juli 2003. Mau wisuda tapi tidak punya baju yang layak. Gaun jahitan saya, bayarnya dicicil sampai 2005.
Ada ratusan nama. Dan di setiap cerita, ibu mencatat harga yang ia kenakan — yang hampir selalu lebih murah dari harga wajar, atau tidak ia kenakan sama sekali.
Itu sebabnya toko itu tidak pernah untung.
Dan itu sebabnya ibu tidak pernah menjualnya.
Saya duduk di lantai toko yang sudah berdebu itu, membaca nama demi nama, dan saya menangis untuk pertama kalinya sejak pemakaman.
Ibu tidak menjalankan bisnis. Ibu menjalankan sesuatu yang tidak ada namanya di buku teks ekonomi.
Toko jahit itu masih buka sampai sekarang. Saya yang menjalankannya, dua hari seminggu. Masih rugi. Mungkin akan selalu rugi.
Tapi ada buku catatan baru di laci yang sama. Dengan nama-nama baru yang mulai saya tulis.
Setiap bulan saya menulis angka-angka yang tidak pernah memuaskan. Hutang ke supplier yang setiap bulan sedikit bertambah.
Kenapa tidak dijual saja? saya pernah tanya waktu kelas dua SMA.
Ibu tidak menjawab langsung. Ia sedang memotong kain, dan ia melanjutkan memotong selama beberapa detik sebelum berkata: Nanti.
Nanti tidak pernah datang. Ibu pergi dua tahun lalu dengan toko jahit itu masih ada, masih rugi, masih buka setiap pagi meskipun pelanggan yang datang bisa dihitung dengan satu tangan.
Saya yang mewarisinya.
Selama satu bulan pertama, saya pikir saya akan menjualnya. Tapi kemudian saya mulai membereskan toko dan saya menemukan buku catatan ibu.
Bukan buku kas. Di dalamnya ia mencatat nama-nama. Nama dan cerita singkat.
Bu Hartini, 3 Maret 1998. Suaminya baru kena PHK. Saya jahitkan kebaya untuk acara kondangan anaknya, tidak saya tagih.
Mbak Yuli, 15 Juli 2003. Mau wisuda tapi tidak punya baju yang layak. Gaun jahitan saya, bayarnya dicicil sampai 2005.
Ada ratusan nama. Dan di setiap cerita, ibu mencatat harga yang ia kenakan — yang hampir selalu lebih murah dari harga wajar, atau tidak ia kenakan sama sekali.
Itu sebabnya toko itu tidak pernah untung.
Dan itu sebabnya ibu tidak pernah menjualnya.
Saya duduk di lantai toko yang sudah berdebu itu, membaca nama demi nama, dan saya menangis untuk pertama kalinya sejak pemakaman.
Ibu tidak menjalankan bisnis. Ibu menjalankan sesuatu yang tidak ada namanya di buku teks ekonomi.
Toko jahit itu masih buka sampai sekarang. Saya yang menjalankannya, dua hari seminggu. Masih rugi. Mungkin akan selalu rugi.
Tapi ada buku catatan baru di laci yang sama. Dengan nama-nama baru yang mulai saya tulis.