Isi Kepalaku
Kesehatan Mental
Episode 1 dari 2

Selamat Datang di Kepala Saya

Anxiety saya tidak terlihat seperti yang digambarkan di poster kesehatan mental.

Tidak ada serangan panik dramatis di tempat umum. Tidak ada menangis tanpa alasan di tengah jalan.

Yang ada adalah ini: saya memeriksa kompor dua kali sebelum tidur. Selalu dua kali. Kalau saya sudah di kasur dan tiba-tiba tidak yakin apakah tadi dua kali atau satu kali, saya harus bangun dan memeriksa lagi.

Saya mengirim pesan dan kemudian membacanya ulang tiga kali untuk memastikan tidak ada kalimat yang bisa disalahartikan. Kalau ada, saya panik selama dua jam tentang apakah orang itu marah atau tidak.

Di rapat, ketika atasan saya mengatakan nanti kita bicarakan ya tentang suatu hal, saya menghabiskan sisa hari itu menyusun skenario tentang apa yang akan dibicarakan dan apa konsekuensinya.

Anxiety saya adalah pekerjaan paruh waktu yang tidak dibayar.

Saya baru tahu namanya empat tahun lalu, ketika seorang teman menyarankan saya ke psikolog. Sebelumnya saya pikir ini adalah kepribadian saya — saya orang yang terlalu mikir, kata orang-orang.

Ternyata ada nama untuk ini. Dan mengetahui namanya tidak langsung membuat segalanya lebih mudah, tapi setidaknya saya berhenti menyalahkan diri sendiri untuk sesuatu yang bukan sepenuhnya pilihan saya.

Jurnal ini bukan tentang cara sembuh. Ini tentang hidup bersamanya — dengan semua absurditas dan kelelahan dan kadang, di hari-hari tertentu, sedikit humor yang gelap.