Jakarta Bukan Tempat Pulang
Merantau
Episode 1 dari 3

Keberangkatan

Bus malam dari Palu berangkat pukul delapan. Saya duduk di kursi 14A dengan satu koper yang tidak penuh dan satu tas ransel yang terlalu penuh.

Ibu tidak mengantar sampai terminal. Ia mengantar sampai depan gang, memeluk saya dua kali, lalu balik ke dalam rumah tanpa menoleh. Saya berdiri sebentar di depan gang, menunggu ia keluar lagi. Ia tidak keluar.

Bapak ada di terminal. Ia membelikan saya nasi bungkus yang tidak sempat saya makan dan memberikan amplop coklat yang isinya saya tidak boleh dihitung sebelum sampai tujuan. Cukup untuk tiga bulan, katanya. Setelah itu kamu harus bisa sendiri.

Tiga bulan. Ia mengucapkannya seperti itu adalah waktu yang lama. Waktu itu saya dua puluh dua tahun dan saya percaya ia benar.

Jakarta menyambut saya dengan kemacetan di pintu tol. Jam empat subuh, dan jalan masih penuh. Saya terpaku di kursi, melihat lautan lampu merah yang tidak ada habisnya, dan untuk pertama kalinya terlintas pertanyaan yang tidak pernah saya izinkan masuk sebelumnya: bagaimana kalau ini salah?

Pertanyaan itu saya usir cepat-cepat. Saya sudah di sini. Sudah tidak ada yang perlu ditanyakan.

Kosan pertama saya ada di Ciputat. Kamar 2x3 meter, kipas angin yang bunyinya lebih keras dari musik tetangga, dan jendela yang menghadap tembok. Harganya tiga ratus ribu sebulan, termasuk air. Tidak termasuk listrik, tidak termasuk rasa aman.

Malam pertama saya tidak tidur. Bukan karena tidak mengantuk, tapi suara Jakarta tidak pernah berhenti. Di Palu, tengah malam berarti sunyi. Di sini tengah malam hanyalah versi lebih kecil dari siang.

Saya berbaring di kasur tipis itu dan menghitung uang di amplop coklat bapak. Empat juta tiga ratus ribu. Saya tidak tahu apakah itu banyak atau sedikit untuk Jakarta. Saya tidak tahu apa-apa tentang harga-harga di sini.

Tiga bulan, kata bapak.

Saya tidak tahu bahwa tiga bulan pertama itu akan menjadi tiga bulan paling mahal yang pernah saya lalui — bukan dalam rupiah, tapi dalam hal-hal lain yang tidak ada harganya.