Episode 2 dari 3
Yang Tidak Diceritakan ke Rumah
Ada hal-hal yang tidak pernah saya ceritakan kepada orang tua saya dalam sepuluh tahun ini.
Bahwa bulan ketiga saya di Jakarta, uang bapak habis dan pekerjaan belum ada. Saya hidup dua minggu dari mie instan dan air putih, dan ketika akhirnya dapat kerja sebagai kurir, gaji pertama saya habis untuk membayar tunggakan kosan.
Bahwa saya pernah menangis di toilet Indomaret pukul dua belas malam. Bukan karena tidak kuat — tapi karena itu satu-satunya tempat yang cukup sepi untuk menangis tanpa ada yang bertanya kenapa.
Bahwa nomor telepon saya pernah diblokir selama tiga bulan karena tidak bisa bayar tagihan, dan saya tidak memberitahu siapapun. Ibu mungkin mengira saya sibuk. Saya tidak meluruskan.
Orang-orang yang merantau punya dua kehidupan: yang di sana, dan yang diceritakan ke rumah. Yang diceritakan ke rumah selalu sedikit lebih baik. Sedikit lebih berhasil. Karena kalau kamu cerita yang sebenarnya, ibu tidak akan bisa tidur, dan bapak akan menawarkan uang yang tidak ia punya.
Jadi kamu belajar memilah. Kamu belajar bahwa lagi sibuk kerja adalah kalimat yang bisa menutupi segalanya.
Saya sekarang sudah sepuluh tahun di Jakarta. Penghasilan saya sudah cukup untuk mengirim pulang setiap bulan. Tapi setiap kali pulang kampung dan ibu memeluk saya di depan gang yang sama itu, saya selalu merasa ada jarak yang tidak bisa dijembatani oleh apapun.
Jarak antara siapa yang mereka pikir saya, dan siapa yang sebenarnya ada di kamar 2x3 meter itu sepuluh tahun lalu.
Bahwa bulan ketiga saya di Jakarta, uang bapak habis dan pekerjaan belum ada. Saya hidup dua minggu dari mie instan dan air putih, dan ketika akhirnya dapat kerja sebagai kurir, gaji pertama saya habis untuk membayar tunggakan kosan.
Bahwa saya pernah menangis di toilet Indomaret pukul dua belas malam. Bukan karena tidak kuat — tapi karena itu satu-satunya tempat yang cukup sepi untuk menangis tanpa ada yang bertanya kenapa.
Bahwa nomor telepon saya pernah diblokir selama tiga bulan karena tidak bisa bayar tagihan, dan saya tidak memberitahu siapapun. Ibu mungkin mengira saya sibuk. Saya tidak meluruskan.
Orang-orang yang merantau punya dua kehidupan: yang di sana, dan yang diceritakan ke rumah. Yang diceritakan ke rumah selalu sedikit lebih baik. Sedikit lebih berhasil. Karena kalau kamu cerita yang sebenarnya, ibu tidak akan bisa tidur, dan bapak akan menawarkan uang yang tidak ia punya.
Jadi kamu belajar memilah. Kamu belajar bahwa lagi sibuk kerja adalah kalimat yang bisa menutupi segalanya.
Saya sekarang sudah sepuluh tahun di Jakarta. Penghasilan saya sudah cukup untuk mengirim pulang setiap bulan. Tapi setiap kali pulang kampung dan ibu memeluk saya di depan gang yang sama itu, saya selalu merasa ada jarak yang tidak bisa dijembatani oleh apapun.
Jarak antara siapa yang mereka pikir saya, dan siapa yang sebenarnya ada di kamar 2x3 meter itu sepuluh tahun lalu.
Respons
Belum ada respons. Jadilah yang pertama membagikan pemikiranmu.