Menatap ke Ujung Waktu: Mengenal Eskatologi
Eskatologi
Episode 8 dari 8

Hidup di Tengah Bab yang Belum Selesai

Ada satu momen yang sering terlewat begitu saja dalam keseharian, yaitu saat seseorang menutup buku yang sedang dibaca, lalu untuk sesaat menatap sampulnya, menyadari bahwa cerita di dalamnya, betapapun panjang dan rumitnya, pada akhirnya akan sampai ke halaman terakhir. Ada kesedihan kecil dalam kesadaran itu, sekaligus ada sesuatu yang lain, semacam penghargaan yang tiba-tiba muncul terhadap setiap bab yang sudah dilalui.

Begitulah kira-kira posisi manusia terhadap eskatologi. Bukan penonton yang menyaksikan cerita dari luar, melainkan tokoh yang berada di tengah bab yang belum selesai, tanpa tahu persis berapa halaman lagi yang tersisa, atau bagaimana persisnya cerita ini akan berakhir.

Satu Pertanyaan, Banyak Jawaban

Sepanjang tujuh bab sebelumnya, kita telah menyaksikan betapa beragamnya jawaban yang diberikan manusia terhadap satu pertanyaan yang sama. Islam menjawabnya lewat tanda-tanda yang perlahan menampakkan diri, dari bisikan kecil hingga teriakan besar, berujung pada hari perhitungan yang teliti. Kekristenan menjawabnya lewat penglihatan Yohanes tentang langit baru dan bumi baru, meski dengan perdebatan panjang tentang detail dan urutannya. Mitologi Norse, Hindu, Buddha, dan Maya masing-masing menuliskan babaknya sendiri, entah lewat pertempuran para dewa, penunggang kuda putih, kemerosotan kebijaksanaan, atau siklus kalender yang berputar. Dan sains, dengan bahasanya yang dingin dan teliti, menjawabnya lewat entropi, kematian bintang, dan skenario-skenario tentang bagaimana alam semesta pada akhirnya akan sunyi selamanya.

Menariknya, di balik segala perbedaan bentuk dan bahasa itu, ada satu benang merah yang terus muncul kembali: keyakinan bahwa akhir bukanlah kata penutup yang mutlak. Hampir selalu ada sesuatu setelahnya, entah dunia baru yang tumbuh dari reruntuhan, zaman keemasan yang menyusul kegelapan, atau sekadar kesunyian yang, betapapun dinginnya, tetap menjadi bagian dari sebuah proses yang lebih besar.

Kenapa Ketidakpastian Bukan Musuh

Kita juga telah menyusuri bagaimana pikiran manusia bekerja di hadapan ketidakpastian tentang akhir. Bahwa ketakutan akan hal yang tak diketahui sering kali lebih berat dibanding ketakutan akan hal yang sudah punya bentuk, bahkan jika bentuk itu menakutkan. Bahwa membayangkan skenario terburuk adalah cara kuno otak manusia untuk merasa lebih siap. Bahwa di tengah dunia yang terasa terlalu rumit untuk diperbaiki sedikit demi sedikit, bayangan tentang akhir total kadang terasa lebih mudah diterima dibanding kenyataan yang berlarut-larut tanpa penyelesaian yang jelas.

Namun ada pelajaran lain yang mungkin lebih penting dari semua itu: bahwa ketidakpastian tentang akhir, alih-alih harus dihindari atau ditakuti sepenuhnya, sebenarnya bisa menjadi pengingat untuk hidup dengan lebih penuh perhatian pada apa yang sedang berlangsung sekarang. Si kakek yang menatap gedung tinggi itu bukan sedang melumpuhkan dirinya dengan ketakutan, melainkan mengingatkan diri untuk hidup dengan lebih berhati-hati dan bermakna. Perempuan yang keluar dari bioskop itu bukan trauma oleh kehancuran yang ia tonton, melainkan justru lebih menghargai kotanya yang masih berdiri, langitnya yang masih biru.

Bab yang Belum Ditulis Bukan Alasan untuk Berhenti Membaca

Ada godaan, ketika berhadapan dengan sesuatu yang sebesar dan setidakpastinya "akhir dari segalanya", untuk merasa kecil dan tak berdaya, seolah semua usaha hari ini tidak ada artinya di hadapan skala waktu miliaran tahun atau nubuat-nubuat kuno yang jauh melampaui satu kehidupan manusia.

Namun barangkali justru sebaliknya yang benar. Odin tetap melatih pasukannya meski tahu ia akan kalah di Ragnarok. Yohanes tetap menuliskan penglihatannya meski sedang diasingkan di tempat paling sunyi yang bisa dibayangkan. Bahkan mahasiswa astronomi yang menghitung entropi alam semesta tetap bangun setiap pagi, tetap menjalani harinya, meski tahu bahwa suatu hari nanti, entah kapan, semuanya akan mencapai kesunyian mutlak. Kesadaran akan akhir, dalam hampir semua kisah yang telah kita telusuri, justru tidak pernah benar-benar menjadi alasan untuk berhenti bertindak. Ia lebih sering menjadi alasan untuk bertindak dengan lebih penuh kesadaran.

Menatap Kembali ke Ujung Waktu

Kita memulai perjalanan ini dengan seorang lelaki tua di berandanya, menatap matahari tenggelam, bertanya-tanya bagaimana semua ini akan berakhir. Pertanyaan itu, setelah tujuh bab yang telah kita lalui bersama, mungkin belum sepenuhnya terjawab, dan barangkali memang tidak akan pernah sepenuhnya terjawab. Namun ada sesuatu yang berubah dalam cara kita memandangnya.

Bahwa menatap ke ujung waktu bukan berarti harus menemukan jawaban pasti tentang kapan dan bagaimana semuanya akan berakhir. Ia lebih berarti mengakui, dengan jujur dan tanpa rasa takut yang berlebihan, bahwa kita semua sedang hidup di tengah sebuah bab yang belum selesai, dan justru karena itulah, setiap halaman yang kita jalani hari ini, sekecil atau sesederhana apa pun tampaknya, layak dijalani dengan sepenuh hati.

Matahari akan tenggelam lagi hari ini, seperti yang selalu terjadi. Dan esok pagi, seperti kepercayaan sang lelaki tua, ia akan terbit kembali. Barangkali itulah yang paling penting untuk diingat, bukan kapan semuanya akan berakhir, melainkan bahwa sementara itu, matahari masih terbit, dan kita masih di sini untuk menyaksikannya.

Artikel ini adalah bagian kedelapan sekaligus penutup dari seri "Menatap ke Ujung Waktu: Mengenal Eskatologi" di Ruangcerita. Terima kasih telah menyusuri seluruh perjalanan ini.
Episode sebelumnyaEpisode 7
Kamu sudah selesai membaca semua episode. Lihat halaman cerita

Respons

Belum ada respons. Jadilah yang pertama membagikan pemikiranmu.