Kehilangan

Surat yang Tidak Pernah Sampai

Di antara barang-barang ibu yang sudah pergi, ada sekotak surat untuk seseorang yang tidak pernah kami kenal. Seorang pria. Bukan bapak.

Ibu saya tidak pernah menceritakan tentang pria itu. Kami menemukannya di kotak sepatu merah yang disimpan di atas lemari, dua minggu setelah pemakaman.

Kotak itu berisi surat-surat. Dua puluh tiga surat. Semua bertuliskan nama yang sama di amplopnya: Hendra. Tidak ada nama belakang, tidak ada alamat. Hanya nama depan, ditulis dengan tulisan tangan ibu yang masih rapi seperti selalu.

Tidak satu pun surat itu pernah dikirim.

Saya duduk di lantai kamar ibu, dengan dua puluh tiga surat di pangkuan, dan saya tidak tahu harus melakukan apa. Saya tidak tahu apakah saya berhak membacanya. Saya tidak tahu apakah saya ingin tahu.

Pada akhirnya, saya membaca semuanya.

Isinya bukan apa yang saya bayangkan. Bukan cinta yang dramatis, bukan pengakuan yang akan mengguncang keluarga. Surat-surat itu ditulis selama bertahun-tahun dan isinya adalah hal-hal kecil. Hal-hal yang tidak perlu.

Tadi saya masak opor dan tidak ada yang memakannya sampai habis. Dina bilang terlalu berlemak. Aku tertawa, tapi sebenarnya sedikit sedih.

Bougainvillea di depan rumah akhirnya berbunga merah. Kamu pernah bilang itu warna favoritmu.

Hari ini ulang tahunku. Tidak ada yang tahu, kecuali kamu — karena kamu yang pertama kali mengingatkanku bahwa tanggal lahir bukan sekadar angka.

Ada ratusan nama di buku itu. Ratusan cerita. Dan saya menyadari: ibu menyimpan seseorang di dalam hidupnya yang saya tidak pernah boleh masuk ke sana.

Itu bukan pengkhianatan. Setidaknya itu yang saya yakini sekarang. Itu adalah hak yang dimiliki setiap orang — sebuah ruang di dalam diri yang hanya untuk diri sendiri, atau untuk seseorang yang dipilih dengan hati-hati.

Ibu memilih untuk menyimpannya. Memilih untuk tidak mengirimkan surat-surat itu. Memilih untuk membawa semuanya pergi bersamanya.

Yang menyisakan rasa kehilangan berlapis ini: pertama kehilangan ibu, kemudian kehilangan versi ibu yang tidak pernah saya kenal.

Kotak sepatu merah itu sekarang ada di kamar saya. Mungkin saya akan mencari Hendra. Mungkin saya akan membiarkan surat-surat itu tetap tidak terkirim, seperti yang ibu pilih.

Mungkin ada alasan yang baik untuk sebuah cerita tetap menjadi milik satu orang saja.

Cerita lain tentang Kehilangan