Kehilangan

Tiga Bulan Setelah Bapak Pergi

Grief tidak datang saat pemakaman. Ia datang tiga bulan kemudian, saat kamu tidak sengaja menemukan tape tua di gudang — dan menyadari betapa banyak hal yang tidak pernah kamu tanyakan.

Bapak meninggal pada hari Selasa. Hari yang biasa. Matahari tetap terbit, angkutan kota tetap penuh, warung nasi di ujung gang tetap buka pukul tujuh.

Yang pertama saya rasakan bukan sedih. Yang pertama adalah hal-hal teknis: siapa yang harus dihubungi, dokumen apa yang perlu diurus, bagaimana cara memberitahu saudara-saudara di kampung yang tidak semuanya punya nomor telepon.

Grief yang sesungguhnya baru datang tiga bulan kemudian.

Saya sedang membereskan gudang ketika menemukan tape lama milik bapak. Bukan tape modern — tape kaset betul, dengan tombol play yang sudah sedikit macet dan speaker kecil di sampingnya. Di dalamnya masih ada kaset yang tidak pernah saya ketahui judulnya: rekaman langsung dari radio, lagu-lagu dangdut tahun delapan puluhan yang bapak rekam sendiri dua puluh tahun lalu.

Saya menekan play.

Dan sesuatu di dalam dada saya rontok.

Bukan karena lagunya menyentuh — saya bahkan tidak kenal lagunya. Yang membuat saya berdiri diam di tengah gudang, dengan debu di tangan dan air mata yang tiba-tiba ada tanpa izin, adalah ini: bapak pernah menganggap momen itu cukup penting untuk diabadikan. Pernah duduk di depan tape ini, jari di tombol record, menunggu DJ menyebutkan judul lagu sebelum menekan play.

Dan saya baru tahu sekarang. Setelah tiga bulan. Setelah pemakaman, setelah batu nisan, setelah semua orang bilang ikhlas ya, udah tenang dia sekarang.

Inilah yang tidak ada yang memberitahu kamu tentang kehilangan: ia tidak datang saat peti mati diturunkan. Ia datang di momen-momen kecil yang tidak kamu prediksi. Saat kamu tidak sengaja menelepon nomornya sebelum ingat. Saat kamu menemukan kacamata bacanya di laci dapur. Saat kamu ingin menceritakan sesuatu yang lucu terjadi tadi, lalu kamu ingat tidak ada lagi yang akan tertawa dengan cara yang persis itu.

Tiga bulan setelah bapak pergi, saya belajar bahwa kehilangan bukan satu peristiwa. Ia adalah serangkaian penemuan kecil tentang betapa banyak ruang yang ditempati seseorang dalam hidupmu — ruang yang tidak pernah kamu sadari sampai ia kosong.

Ada kebiasaan-kebiasaan kecil yang saya pikir mengganggu. Bapak selalu mematikan lampu ruangan lain kalau saya lupa. Bapak selalu mengunci pintu dua kali — sekali kunci, sekali dorong untuk memastikan. Bapak selalu menyimpan koran bekas di bawah kursi makan, buat jaga-jaga kalau ada yang tumpah.

Sekarang semua itu tidak ada.

Dan anehnya, yang saya rindukan bukan momen-momen besar. Bukan ulang tahun, bukan Lebaran, bukan wisuda. Yang saya rindukan adalah Selasa sore yang biasa. Bapak duduk di teras dengan kopi tanpa gula, memandang jalan, tidak bicara apa-apa. Saya di dalam, mengerjakan sesuatu. Tidak ada yang istimewa. Tidak ada yang perlu diingat.

Tapi itulah yang ingin saya kembali ke sana.

Ke momen yang bahkan tidak saya fotografikan karena saya pikir selalu akan ada. Ke Selasa sore biasa ketika bapak masih ada di teras, dan saya bisa keluar kapan saja kalau mau, dan terkadang saya keluar tapi terkadang tidak, dan tidak ada yang salah dengan itu karena kami pikir masih akan ada Selasa sore yang lain.

Tidak ada yang memberitahu kamu bahwa hal-hal paling biasa yang paling kamu rindukan.

Tape itu masih saya simpan. Kadang saya nyalakan, membiarkan lagu-lagu yang tidak saya kenal mengisi ruangan, dan saya bayangkan bapak yang muda, dua puluh tahun lalu, duduk di depan tape ini, merekam sesuatu yang ia pikir cukup penting untuk disimpan.

Ternyata ia benar.

Kehilangan mengajarkan saya bahwa orang-orang yang kita cintai selalu lebih dari yang kita tahu. Dan kita hanya menyadarinya setelah tidak ada lagi waktu untuk bertanya.

Cerita lain tentang Kehilangan