The Architect of My Own Fate
Episode 1 dari 4

Keberuntungan Mutlak

Jika hidup ini adalah sebuah game RPG (Role-Playing Game) di mana tokoh utamanya harus merintis jalan dari nol, maka aku memulai permainanku dengan tingkat kesulitan Hardcore. Ini adalah level paling brutal di mana kondisi awalmu sudah sangat tidak menguntungkan.

Duniaku terbelah saat usiaku baru menginjak lima tahun. Orang dewasa menyebutnya "perceraian". Di atas kertas pengadilan, Ayah memang memenangkan hak asuh atasku. Namun, realitasnya tidak seindah stempel dokumen. Mengasuh anak kecil di tengah kesibukan adalah sebuah kerumitan. Jadi alih-alih tinggal bersama Ayah, aku dikirim ke sebuah dunia baru yang jauh dari ibukota, yaitu desa tempat tinggal Kakek dan Nenek.

Di rumah itu, aku tidak hanya tinggal bersama Kakek dan Nenek. Ada adik perempuan ayahku beserta suaminya, dan dua anak mereka. Satu seumuran denganku, dan satu lagi lima tahun lebih tua. Bukannya menjadi teman bermain, kehadiran mereka justru memicu ujian mental yang harus kuhadapi setiap hari.

Meskipun Ayah rutin mengirimkan uang yang lebih dari cukup untuk biaya hidupku di desa, statusku di mata mereka tak ubahnya NPC (Non-Playable Character), sekadar karakter figuran pelengkap yang tidak penting dan sering diabaikan. Diskriminasi itu begitu nyata. Di saat sepupu-sepupuku mendapatkan fasilitas yang layak, aku ditempatkan di sebuah kamar rusak yang bahkan tidak memiliki lampu penerangan. Tempat tidurku hanyalah dipan kayu beralas keras tanpa kasur. Namun anehnya, mentalku menolak untuk tunduk. Aku bukanlah anak yang penakut. Di tengah kegelapan kamar itu, aku justru belajar memeluk keadaanku dengan rasa syukur. Di saat-saat paling dingin dari sikap keluargaku, Nenek selalu menjadi tempat berlindung. Beliau adalah satu-satunya benteng pertahanan di mana aku bisa merasa aman sepenuhnya.

Untuk menghindari ketegangan dan tatapan sinis di rumah, sepulang sekolah aku lebih sering menjelajah sendirian di alam liar. Sawah dan sungai adalah taman bermain pribadiku. Aku berlarian mengejar layangan, mandi di sungai hingga kulitku terbakar matahari, dan menyabit rumput untuk pakan sapi serta kambing peliharaan Kakek. Alam tidak pernah menghakimiku. Di sela-sela waktu itu, aku juga menemukan sebuah harta karun, yakni tumpukan komik Dragon Ball lusuh milik cucu dari kerabat nenekku.

Karena aku memiliki satu kelemahan besar, yakni keterlambatan membaca hingga kelas 3 SD, aku tidak membaca komik itu lewat teksnya. Aku memindainya. Aku "membaca" gambar-gambar pertarungan Goku, menghafal panel demi panel, dan merangkai alur ceritanya di kepalaku sendiri. Tanpa kusadari, kebiasaan inilah yang kelak mengevolusi otakku untuk memiliki ingatan visual yang luar biasa tajam.

Tahun-tahun berlalu, dan aku memasuki medan pertempuran baru bernama Sekolah Dasar. Di sinilah kelemahanku dalam membaca menjadi masalah besar.

Hari-hariku diisi oleh perundungan. Aku ibarat Nobita di dunia nyata, hanya saja tanpa Doraemon yang bisa menolong kapan saja. Pernah suatu hari, guru menyuruhku membaca teks panjang di depan kelas. Karena aku hanya bisa mengeja terbata-bata, seisi kelas menertawakanku habis-habisan. Sang guru yang hilang kesabaran akhirnya menghukumku berdiri di luar kelas sampai jam pelajaran usai. Anak normal mungkin akan menangis tergugu, tapi tidak denganku. Sambil berdiri menghadap lapangan berdebu, aku justru asyik mengimajinasikan diriku sebagai Super Saiyan yang sedang mengumpulkan energi Genkidama. Ejekan mereka tidak bisa menembus insting bertahan hidup yang sudah ditempa di kamar gelap tanpa kasur.

Titik balik hidupku terjadi di suatu pagi yang biasa. Itulah momen di mana keberuntungan mutlak dan ingatan visualku akhirnya bangkit bersamaan di saat yang paling kubutuhkan.

Sebagai siswa yang menempati kasta terbawah, aku selalu mencari cara lain untuk bertahan. Hari itu aku datang sangat pagi. Niatku sekadar ingin mengambil hati wali kelas dengan membersihkan dan merapikan mejanya. Di tengah tumpukan kertas, mataku tertuju pada sebuah buku kecil berwarna hijau.

Aku membukanya. Di dalamnya terdapat deretan angka, huruf silang, dan teks yang ternyata adalah kunci jawaban ujian yang akan segera diadakan.

Insting visual yang selama ini kulatih dari membaca komik Dragon Ball langsung bereaksi. Aku tidak mengeja huruf-huruf itu. Mataku bekerja layaknya pemindai, merekam pola jawaban dan memotret halaman demi halaman langsung ke dalam otakku. Aku menghafalnya di luar kesadaran.

Beberapa hari kemudian, hari pengumuman hasil ujian tiba.

Ruang kelas yang biasanya riuh dengan ejekan tiba-tiba hening senyap. Sang wali kelas berdiri terpaku, menatap lembar nilai di tangannya dengan raut wajah kebingungan. Nama siswa yang selama ini menjadi penghuni abadi di dasar klasemen, sosok anak numpang yang selalu diejek, hari itu diumumkan sebagai peraih ranking terbaik di kelas.

Aku menatap sekeliling. Tawa meremehkan itu kini lenyap, berganti dengan puluhan mata yang melotot tak percaya.

Itulah hari di mana aku menyadari satu hal. Meskipun duniaku dimulai dari keluarga yang hancur, kamar yang gelap, dan status sebagai anak terbodoh, aku selalu memiliki keberuntungan tak terduga dan kemampuan bertahan hidup yang membalikkan keadaan.

(bersambung ke episode 2)

Respons

Belum ada respons. Jadilah yang pertama membagikan pemikiranmu.