The Architect of My Own Fate
Episode 2 dari 4

Evolusi Sang Perancang Kecil

Berita tentang nilai ujianku yang sempurna ternyata terbang melintasi rel kereta api yang sering kutatap, menyusul hingga ke telinga Ayah di Jakarta. Tiba-tiba saja, takdirku kembali ditulis ulang. Ayah menghubungiku dan mengajakku untuk pindah bersamanya.

Sebenarnya, Ayah sudah menikah lagi saat aku masih duduk di bangku kelas dua SD. Namun saat itu, pintu Jakarta seolah belum terbuka untukku. Aku tidak serta merta diizinkan tinggal bersamanya dengan alasan kesibukan mereka berdua, mengingat ibu tiriku juga bekerja. Tapi ketika berita prestasiku terdengar, sebuah pertanyaan menggelitik muncul di benakku yang masih kecil. Apakah selama ini aku tidak diajak karena aku dianggap bodoh dan ia merasa malu? Ataukah memang benar murni karena mereka terlalu sibuk? Entahlah. Yang pasti, tiket menuju kehidupan baru kini sudah ada di tanganku.

Sebelum resmi menginjakkan kaki di ruang kelas sekolah dasar di ibukota, aku melakukan persiapan secara gila-gilaan. Aku sadar betul bahwa nilai sempurna sebelumnya berawal dari sebuah kebetulan yang sangat menguntungkan. Namun, karena telanjur dicap sebagai anak pintar, harga diriku terpantik. Aku tidak ingin kehebatan itu hanya sekadar kebohongan atau keberuntungan sesaat.

Aku mengerahkan seluruh semangatku untuk benar-benar belajar membaca. Ketika kemampuan membacaku akhirnya terbuka, ditambah dengan daya ingat visualku yang tajam, aku berubah menjadi mesin penyerap informasi. Aku melahap apa saja yang bisa kubaca. Mulai dari buku pengetahuan umum, lembaran koran, hingga majalah pertanian Trubus pun tak luput dari pindaian mataku. Otakku yang dulu hanya menyimpan gambar pertarungan komik, kini dipenuhi oleh berbagai macam teks, kosakata, dan fakta dunia.

Berbekal semua persiapan matang itu, aku akhirnya resmi masuk ke kelas empat SD. Namun, hari-hari pertamaku nyatanya bukan tanpa halangan. Saat pertama kali berbaur, aku membawa satu kelemahan baru, yakni logat Jawa Tengah yang masih sangat kental karena terlalu lama tinggal di desa. Hal ini sempat memantik olok-olokan dari anak-anak kota dan membuatku merasa minder. Beruntungnya, ribuan kosakata yang sudah kutabung dari hobi membacaku menjadi senjata utama. Logat Jawaku perlahan luntur dengan cepat, tergantikan oleh susunan bahasa Indonesia yang jauh lebih rapi dan bervariasi dibandingkan anak seumuranku.

Masa-masaku di kelas empat pun menjadi sangat bersinar. Aku bukan lagi si anak numpang yang selalu diejek. Hobiku di kelas adalah menjawab pertanyaan guru tanpa perlu ditunjuk. Pernah suatu ketika, guruku mengadakan kuis berhadiah boleh pulang lebih awal bagi yang bisa menjawab. Aku sangat bersemangat dan langsung memborong semua jawaban. Aku bahkan menolak beranjak pulang karena rasa penasaranku untuk memecahkan semua soal jauh lebih besar. Akibatnya, teman-teman sekelasku kesal karena tidak kebagian jatah menjawab, dan sang guru memutuskan untuk tidak pernah lagi mengadakan kuis semacam itu murni karena ulahku.

Transformasi ini membuatku tiba-tiba memiliki banyak teman. Bahkan mungkin ada beberapa teman lawan jenis yang mulai menaruh perhatian. Namun, aku sama sekali tidak peduli. Satu-satunya hal yang menjadi fokusku hanyalah menjaga rentetan prestasiku. Sayangnya, seiring dengan semakin tajamnya kecerdasanku, sebuah efek samping mulai muncul. Aku tumbuh menjadi anak yang sombong tanpa menyadarinya. Pernah suatu hari seorang guru menegur dan mencoba menyadarkanku tentang kesombongan itu. Bukannya introspeksi, aku justru kebingungan. Di kepalaku, aku sama sekali tidak paham letak kesalahanku. Aku merasa hanya sekadar menunjukkan kemampuanku.

Namun, semesta selalu punya cara untuk menyeimbangkan keadaan. Meskipun di atas kertas aku tampak tak terkalahkan dalam urusan akademik, aku tetap pernah merasakan pil pahit kegagalan. Momen itu terjadi saat aku mengikuti sebuah perlombaan menggambar.

Jika anak-anak SD pada umumnya memilih rute aman dengan menggambar pemandangan standar berupa dua gunung, matahari, dan hamparan sawah, aku menolak tunduk pada kelaziman itu. Aku memutuskan untuk menggambar sebuah lukisan abstrak. Tentu saja, mahakaryaku itu sama sekali tidak dipahami oleh juri pada masa itu. Aku menelan kekalahan telak. Rasanya sungguh mengesalkan. Kegagalan itu mengajariku satu hal penting. Ternyata, tidak semua isi kepalaku bisa dipahami oleh standar orang kebanyakan.

Rasa frustrasi akibat kekalahan lomba menggambar itu akhirnya kualihkan ke hal lain di luar jam sekolah. Aku mulai mengembangkan hobi baru, yaitu mengoleksi mainan.

Saat itu, uang sakuku hanya Rp 500 perak karena jarak rumah ke sekolah dianggap dekat. Uang segitu jelas tidak berdaya untuk sekadar membeli camilan dan minuman di kantin saat jam istirahat. Karena uang sakuku sangat minim, aku harus menabungnya dengan sangat ketat setiap hari. Saat celenganku cukup, aku akan berlari ke agen mainan untuk membeli miniatur karakter robot anime berbahan plastik. Mainan itu tidak instan, melainkan harus dirakit dari komponen-komponen kecil. Entah kenapa, tanganku cukup telaten dan sabar untuk menyatukan potongan-potongan rumit itu hingga menjadi bentuk yang utuh.

Dari keterbatasan uang jajan itulah, insting bertahan hidup dan bisnisku mulai menyala secara tidak sengaja. Aku berpikir untuk menghasilkan uang jajan tambahan dari hobiku sendiri. Aku mulai menjual mainan robot yang sudah kurakit rapi kepada teman-temanku.

Tanpa kusadari, aku tidak hanya berjualan, tetapi juga menciptakan sebuah tren di sekolah. Banyak anak yang akhirnya terpengaruh untuk ikut mengoleksi dan merakit mainan sepertiku. Aku berhasil membuat satu sekolah mengikuti apa yang aku sukai.

Namun, di balik rentetan prestasi dan euforia masa-masa SD di ibukota, ada sebuah babak baru yang perlahan merayap masuk. Babak ini bersiap menguji mentalku dengan cara yang jauh lebih menyakitkan dari sekadar kamar gelap tanpa kasur di desa. Ujian itu bernama ibu tiri.

(bersambung ke episode 3)

Respons

Belum ada respons. Jadilah yang pertama membagikan pemikiranmu.