Episode 3 dari 4
Serangan Psikologis, Kapten Tsubasa, dan Runtuhnya Mental Sang Arsitek
Dulu, saat aku masih tinggal di desa, ada begitu banyak gosip murahan hingga lagu yang menceritakan betapa kejamnya sosok ibu tiri. Kabar burung itu sempat membuatku waswas saat pertama kali pindah ke Jakarta. Apakah ibu sambungku akan bersikap seperti tokoh antagonis di film?
Awalnya, ketakutan itu sepertinya tidak terbukti. Kehidupanku berjalan wajar dan baik-baik saja. Namun, dinamika di dalam rumah mulai terasa bergeser ketika aku memiliki seorang adik perempuan dan ia mulai beranjak besar. Di saat itulah, sikap ibuku perlahan berubah, membawa atmosfer yang membuatku kembali merasa seperti penumpang gelap di rumah ayahku sendiri.
Perubahan itu dimulai dari hal-hal kecil yang manipulatif. Ibuku mulai membelikan barang-barang bertema perempuan untukku. Suatu hari, aku dibelikan kasur dengan motif Powerpuff Girls. Awalnya aku mencoba berpikiran positif dan menganggap itu murni ketidaksengajaan. Namun, kejadian serupa berlanjut saat ia membelikanku tas sekolah dengan motif anak perempuan. Meski merasa aneh dan canggung, aku tetap memakainya setiap hari ke sekolah demi menghargai pemberiannya.
Puncak ketidakadilan itu terjadi saat adikku mulai masuk Taman Kanak-Kanak, sementara aku sudah duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Dengan alasan keadilan, ibuku menyamakan nominal uang saku kami berdua. Anak SMP dan anak TK mendapat jatah yang sama. Aku tidak pernah berani mengeluh. Tapi jika dipikir dengan logika, uang saku itu jelas tidak cukup bagiku untuk sekadar membeli makan dan minum sekaligus. Alhasil, setiap hari aku harus memilih salah satu. Jika aku membeli makanan, maka aku tidak bisa minum. Jika aku membeli minuman, aku harus menahan lapar. Sering kali, aku memilih opsi ketiga, yakni berpuasa.
Di tengah kondisi itu, Ayah selalu sibuk dengan pekerjaannya. Ia jarang sekali memperhatikanku. Karena merasa tidak memiliki tempat bernaung yang nyaman di dalam rumah, aku mencari pelarian ke luar. Aku tenggelam dalam hobi sepak bola. Kebetulan, saat itu aku sangat menggilai anime Kapten Tsubasa. Aku berlari di lapangan setiap sore, membayangkan diriku menjadi sosok pahlawan lapangan hijau seperti Tsubasa Ozora.
Sayangnya, pelarian murniku itu pun harus dihancurkan. Suatu hari, saat ibuku sedang kesal melihatku hanya sibuk bermain bola dan menonton televisi, ia melontarkan kalimat yang begitu membekas.
"Kamu nggak bakal jadi kayak Tsubasa!" ketusnya.
Jika dipikirkan saat ini, ucapan itu memang realistis. Tidak ada yang bisa memiliki tendangan fiksi seperti karakter anime. Namun, bagi mentalku yang sedang rapuh saat itu, kalimat tersebut terasa seperti vonis mati. Aku memasukkannya ke dalam hati. Aku benar-benar memikirkan bahwa ibuku menganggapku tidak akan pernah bisa menggapai impian menjadi pemain bola.
Situasi finansialku semakin mencekik. Pernah suatu ketika, aku tidak tahan lagi dan meminta tambahan uang saku. Alih-alih diberi uang, aku justru diceramahi panjang lebar. Kepercayaan ibuku terhadapku ternyata sudah menguap. Hal ini berakar dari sebuah kesalahan bodoh yang pernah kulakukan sebelumnya. Dulu, aku pernah diam-diam mengambil uang ibu untuk pergi ke tempat penyewaan PlayStation (PS). Aku memang tertangkap basah, dan sejak saat itu aku berjanji untuk tidak pernah mengulanginya lagi. Aku menepati janjiku.
Namun, stempel "pencuri" itu seolah sudah terpatri permanen di dahi ini. Semenjak kejadian itu, aku tidak lagi dipercaya soal uang. Bahkan ketika aku benar-benar meminta uang untuk membeli buku LKS (Lembar Kerja Siswa) dari sekolah, permintaanku sama sekali tidak digubris. Aku dicurigai berbohong. Akhirnya, dengan inisiatif sendiri, aku memfotokopi buku LKS milik teman agar tetap bisa mengerjakan tugas guru. Rasanya sungguh miris dan memalukan.
Di usiaku yang masih berseragam SMP putih biru, aku mulai berpikir keras mencari cara untuk menghasilkan uang sendiri. Aku ingin membeli buku tanpa harus dicurigai.
Di sinilah sistem keberuntunganku kembali bekerja. Seorang guru di sekolah tampaknya melihat rekam jejak prestasiku dan antusiasku di kelas. Ia menawarkan sebuah pekerjaan yang tidak biasa untuk anak seumuranku. Ia memintaku untuk menjadi guru les pribadi bagi anaknya yang masih duduk di bangku SD. Tanpa ragu, aku langsung menyanggupinya.
Setiap sepulang sekolah, tanpa sepengetahuan orang rumah, aku berjalan kaki menempuh jarak yang cukup jauh menuju rumah guruku. Keringat dan lelah berjalan kaki terbayar lunas demi lembaran rupiah yang kuterima sebagai upah mengajar. Aku merasa bangga bisa mengandalkan diriku sendiri.
Namun, kebanggaan itu tidak bertahan lama. Ibuku mulai curiga dengan jam pulang sekolahku yang selalu terlambat. Ia menginterogasiku. Saking polosnya, aku mengatakan yang sebenarnya bahwa aku bekerja mencari uang dengan mengajar.
Kukira ia akan bangga, atau setidaknya membiarkanku. Namun, yang keluar dari mulutnya justru adalah kalimat demotivasi kedua yang menghancurkan sisa-sisa pertahananku.
"Belagu, masih SMP udah sok ngajar!"
Kata-kata itu meruntuhkan segalanya. Aku merasa mentalku yang dulu begitu kebal saat dihukum berjemur di desa, kini menjadi sangat lembek. Kehidupan masa puber yang penuh gejolak, ditambah rasa muak dan malu dengan kondisi keluarga, membuat prestasiku di sekolah merosot tajam.
Di titik terendah itu, aku sering merenung. Aku merindukan masa-masa sulit di desa. Meskipun di sana aku tidur di kamar gelap tanpa kasur, semuanya terasa jauh lebih baik. Karena di masa itu, setidaknya aku yang memegang kendali atas takdirku sendiri.
(bersambung ke episode 4)
Awalnya, ketakutan itu sepertinya tidak terbukti. Kehidupanku berjalan wajar dan baik-baik saja. Namun, dinamika di dalam rumah mulai terasa bergeser ketika aku memiliki seorang adik perempuan dan ia mulai beranjak besar. Di saat itulah, sikap ibuku perlahan berubah, membawa atmosfer yang membuatku kembali merasa seperti penumpang gelap di rumah ayahku sendiri.
Perubahan itu dimulai dari hal-hal kecil yang manipulatif. Ibuku mulai membelikan barang-barang bertema perempuan untukku. Suatu hari, aku dibelikan kasur dengan motif Powerpuff Girls. Awalnya aku mencoba berpikiran positif dan menganggap itu murni ketidaksengajaan. Namun, kejadian serupa berlanjut saat ia membelikanku tas sekolah dengan motif anak perempuan. Meski merasa aneh dan canggung, aku tetap memakainya setiap hari ke sekolah demi menghargai pemberiannya.
Puncak ketidakadilan itu terjadi saat adikku mulai masuk Taman Kanak-Kanak, sementara aku sudah duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Dengan alasan keadilan, ibuku menyamakan nominal uang saku kami berdua. Anak SMP dan anak TK mendapat jatah yang sama. Aku tidak pernah berani mengeluh. Tapi jika dipikir dengan logika, uang saku itu jelas tidak cukup bagiku untuk sekadar membeli makan dan minum sekaligus. Alhasil, setiap hari aku harus memilih salah satu. Jika aku membeli makanan, maka aku tidak bisa minum. Jika aku membeli minuman, aku harus menahan lapar. Sering kali, aku memilih opsi ketiga, yakni berpuasa.
Di tengah kondisi itu, Ayah selalu sibuk dengan pekerjaannya. Ia jarang sekali memperhatikanku. Karena merasa tidak memiliki tempat bernaung yang nyaman di dalam rumah, aku mencari pelarian ke luar. Aku tenggelam dalam hobi sepak bola. Kebetulan, saat itu aku sangat menggilai anime Kapten Tsubasa. Aku berlari di lapangan setiap sore, membayangkan diriku menjadi sosok pahlawan lapangan hijau seperti Tsubasa Ozora.
Sayangnya, pelarian murniku itu pun harus dihancurkan. Suatu hari, saat ibuku sedang kesal melihatku hanya sibuk bermain bola dan menonton televisi, ia melontarkan kalimat yang begitu membekas.
"Kamu nggak bakal jadi kayak Tsubasa!" ketusnya.
Jika dipikirkan saat ini, ucapan itu memang realistis. Tidak ada yang bisa memiliki tendangan fiksi seperti karakter anime. Namun, bagi mentalku yang sedang rapuh saat itu, kalimat tersebut terasa seperti vonis mati. Aku memasukkannya ke dalam hati. Aku benar-benar memikirkan bahwa ibuku menganggapku tidak akan pernah bisa menggapai impian menjadi pemain bola.
Situasi finansialku semakin mencekik. Pernah suatu ketika, aku tidak tahan lagi dan meminta tambahan uang saku. Alih-alih diberi uang, aku justru diceramahi panjang lebar. Kepercayaan ibuku terhadapku ternyata sudah menguap. Hal ini berakar dari sebuah kesalahan bodoh yang pernah kulakukan sebelumnya. Dulu, aku pernah diam-diam mengambil uang ibu untuk pergi ke tempat penyewaan PlayStation (PS). Aku memang tertangkap basah, dan sejak saat itu aku berjanji untuk tidak pernah mengulanginya lagi. Aku menepati janjiku.
Namun, stempel "pencuri" itu seolah sudah terpatri permanen di dahi ini. Semenjak kejadian itu, aku tidak lagi dipercaya soal uang. Bahkan ketika aku benar-benar meminta uang untuk membeli buku LKS (Lembar Kerja Siswa) dari sekolah, permintaanku sama sekali tidak digubris. Aku dicurigai berbohong. Akhirnya, dengan inisiatif sendiri, aku memfotokopi buku LKS milik teman agar tetap bisa mengerjakan tugas guru. Rasanya sungguh miris dan memalukan.
Di usiaku yang masih berseragam SMP putih biru, aku mulai berpikir keras mencari cara untuk menghasilkan uang sendiri. Aku ingin membeli buku tanpa harus dicurigai.
Di sinilah sistem keberuntunganku kembali bekerja. Seorang guru di sekolah tampaknya melihat rekam jejak prestasiku dan antusiasku di kelas. Ia menawarkan sebuah pekerjaan yang tidak biasa untuk anak seumuranku. Ia memintaku untuk menjadi guru les pribadi bagi anaknya yang masih duduk di bangku SD. Tanpa ragu, aku langsung menyanggupinya.
Setiap sepulang sekolah, tanpa sepengetahuan orang rumah, aku berjalan kaki menempuh jarak yang cukup jauh menuju rumah guruku. Keringat dan lelah berjalan kaki terbayar lunas demi lembaran rupiah yang kuterima sebagai upah mengajar. Aku merasa bangga bisa mengandalkan diriku sendiri.
Namun, kebanggaan itu tidak bertahan lama. Ibuku mulai curiga dengan jam pulang sekolahku yang selalu terlambat. Ia menginterogasiku. Saking polosnya, aku mengatakan yang sebenarnya bahwa aku bekerja mencari uang dengan mengajar.
Kukira ia akan bangga, atau setidaknya membiarkanku. Namun, yang keluar dari mulutnya justru adalah kalimat demotivasi kedua yang menghancurkan sisa-sisa pertahananku.
"Belagu, masih SMP udah sok ngajar!"
Kata-kata itu meruntuhkan segalanya. Aku merasa mentalku yang dulu begitu kebal saat dihukum berjemur di desa, kini menjadi sangat lembek. Kehidupan masa puber yang penuh gejolak, ditambah rasa muak dan malu dengan kondisi keluarga, membuat prestasiku di sekolah merosot tajam.
Di titik terendah itu, aku sering merenung. Aku merindukan masa-masa sulit di desa. Meskipun di sana aku tidur di kamar gelap tanpa kasur, semuanya terasa jauh lebih baik. Karena di masa itu, setidaknya aku yang memegang kendali atas takdirku sendiri.
(bersambung ke episode 4)
Respons
Belum ada respons. Jadilah yang pertama membagikan pemikiranmu.