The Architect of My Own Fate
Episode 4 dari 4

Rute Sepeda, Desain MS Paint, dan Kebangkitan Sang Penulis Dongeng

Masa-masa akhir SMP berlalu bagai angin lalu. Tidak ada pencapaian yang benar-benar memuaskan hatiku. Walaupun namaku masih bertengger di peringkat sepuluh besar dan aku cukup aktif menjadi pengurus OSIS, ada sebuah rantai tak kasatmata yang membelengguku. Rantai itu bernama rasa minder akibat keterbatasan ekonomi.

Sebenarnya keluargaku bukan tidak mampu. Ayahku punya penghasilan. Namun, aku secara sadar membatasi diriku sendiri karena masalah hubunganku dengan ibu tiri. Aku tidak pernah sampai hati menceritakan penderitaan batin ini kepada Ayah. Aku sangat khawatir jika aku buka suara, akan terjadi keributan besar di rumah yang hanya akan mengorek kembali luka lama dan trauma perceraiannya. Sebagai seorang anak, aku memilih menjadi tameng. Biarlah aku yang menelan ludah pahit ini sendirian demi menjaga ketenangan Ayah.

Ketika tiba waktunya memilih jenjang pendidikan berikutnya, insting bertahan hidupku kembali mengambil alih kemudi. Aku memilih jalan yang berbeda dari mayoritas temanku. Aku memutuskan masuk Sekolah Menengah Kejuruan atau SMK.

Sejujurnya aku tidak menyukai sekolah kejuruan. Di kepalaku, SMK adalah sarang para remaja beringas yang hobi tawuran. Tapi secara logis, ini adalah rute paling aman. Pikirku saat itu, jika nasib buruk membawaku tidak bisa melanjutkan kuliah karena masalah biaya, setidaknya dengan ijazah SMK aku bisa langsung bekerja dan membiayai hidupku sendiri.

Untuk menyiasati ketakutanku pada reputasi tawuran pelajar, aku merancang strategiku sendiri. Menumpang kendaraan umum sama saja dengan menyerahkan diri ke medan perang. Jadi, aku memilih mengayuh sepeda setiap hari ke sekolah. Jarak dari rumah ke sekolah lumayan jauh. Awalnya, pilihan ini membuatku sering datang terlambat. Namun, keadaan memaksaku beradaptasi. Aku mulai bangun dan mengayuh sepedaku jauh lebih pagi. Semuanya kulakukan demi menghindari tawuran dan omelan guru piket.

Di luar jam pelajaran, aku harus mencari alasan agar tidak cepat pulang ke rumah. Rumah masih terasa seperti ruang hampa yang menyesakkan. Pelarianku akhirnya jatuh pada organisasi ROHIS atau Rohani Islam. Niat awalku mungkin memang untuk mendalami agama, tapi jauh di lubuk hati, aku hanya butuh tempat untuk menghabiskan waktu.

Ternyata, di sanalah aku menemukan kehangatan keluarga yang lama hilang. Kakak tingkat di ROHIS memperlakukanku layaknya saudara sendiri. Jaringan pertemananku meluas dengan cepat. Dari organisasi ini, aku diutus mewakili sekolah dalam lomba Nasyid, sebuah momen yang secara tak terduga menyadarkan bahwa aku memiliki bakat menyanyi. Di fase ini pula, rasa penasaranku merambah ke topik yang cukup berat untuk anak seumuranku, yakni eskatologi atau ilmu tentang akhir zaman. Puncak dari pelarian emosional ini terbayar manis ketika aku dipercaya menjadi Ketua ROHIS saat menginjak kelas dua SMK.

Sementara itu, kehidupanku di jurusan teknik juga punya warna tersendiri. Secara teori, catatanku mungkin cemerlang. Tapi secara praktik, aku sebenarnya tidak terlalu piawai. Aku masih sering mengandalkan bantuan teman-temanku, terutama kalau sudah berurusan dengan praktik membongkar mesin di bengkel. Sebagai gantinya, aku menjadi andalan mereka saat guru meminta menggambar bentuk komponen mesin di papan tulis.

Aku sangat menyukai gambar teknik. Saking sukanya, aku rajin membuat desain modifikasi sepeda motor untuk dikirim ke berbagai tabloid otomotif. Lucunya, semua desain itu tidak kubuat dengan perangkat lunak canggih. Aku murni menggambarnya menggunakan aplikasi bawaan komputer, yaitu Microsoft Paint. Tentu saja tidak ada satu pun desainku yang diterbitkan oleh redaksi tabloid saat itu. Barulah beberapa waktu kemudian aku menyadari keberadaan perangkat lunak AutoCAD, yang seolah membuka mata ketigaku dalam dunia desain.

Di tengah kesibukanku dengan desain MS Paint dan kegiatan organisasi, kesempatan panggung utamaku justru datang dari arah yang sama sekali tidak terduga.

Suatu hari, seorang guru bahasa menginformasikan adanya undangan perlombaan dari luar sekolah. Dengan nada santai ia berkata bahwa jika ada yang berminat, silakan mendaftar sendiri. Rasa penasaranku mengalahkan keraguanku. Aku memutuskan berangkat sendirian untuk mendaftar ke sebuah SMA favorit di kotaku. Pikirku, anggap saja ini sebuah uji coba. Aku sangat yakin akan kalah telak dilibas oleh siswa-siswa teladan dari SMA unggulan tersebut.

Kategori perlombaan yang kuikuti sangat di luar dugaan untuk ukuran anak teknik, yaitu lomba menulis sastra berupa dongeng. Selesai bertanding, saat sedang berjalan-jalan di area pameran sekolah tersebut, aku tidak sengaja berpapasan dengan seorang teman perempuan semasa SMP.

"Loh, ngapain lo di sini?" sapanya tiba-tiba.

Mendapat sapaan mendadak dari lawan jenis langsung membuatku gugup setengah mati. Dengan terbata-bata aku mencari alasan, "Mmmm, ini, lagi nonton aja. Liat-liat bazar. Eh, lo ikut lomba ya? Lomba apa?"

"Gue ikut cerdas cermat," jawabnya bangga.

Mendengar itu, aku bersorak lega di dalam hati. Untung saja aku tidak jujur mengatakan bahwa aku habis ikut lomba menulis dongeng. Bisa-bisa status maskulinitasku sebagai anak teknik hancur dan aku malah jadi bahan olok-oloknya.

Siang harinya, momen pengumuman pemenang tiba. Tanpa disangka-sangka, namaku dipanggil dari atas panggung sebagai Juara Pertama lomba menulis dongeng tersebut. Perasaan bahagia yang sudah lama terpendam tiba-tiba meledak kembali di dadaku. Meski di satu sisi, kepalaku sibuk menoleh ke kanan dan kiri sambil membatin cemas dalam hati. Aduh, temanku tadi lihat aku naik panggung tidak ya?

Berita kemenanganku dengan cepat menyebar hingga ke sekolah. Ironisnya, pihak sekolah yang sama sekali tidak mengeluarkan modal sepeser pun untuk mendukungku, dengan sangat bangga meminta piala itu untuk dipajang di etalase. Tapi aku tidak terlalu ambil pusing. Ini adalah kemenangan dan kebanggaan pertamaku di usia yang mulai menginjak remaja menuju dewasa.

Kemenangan itu ternyata memicu rentetan keberuntungan lainnya. Sejak saat itu, aku mulai diberi panggung dan kepercayaan penuh untuk mewakili sekolah di berbagai ajang. Insting kreatorku seolah menemukan wadah yang tepat. Aku memenangkan Juara 1 di hampir setiap perlombaan yang berkaitan dengan ilmu komunikasi, mulai dari lomba menulis jurnalistik hingga fotografi. Bahkan yang paling mengejutkan, aku berhasil meraih Peringkat 36 Nasional dalam perlombaan Karya Tulis Ilmiah yang diadakan oleh lembaga ilmu pengetahuan bergengsi.

Kondisi di rumahku memang tidak ada yang berubah. Perlakuan ibu tiri tidak juga membaik. Namun, aku sangat bersyukur karena sekolah telah menjelma menjadi ruang amanku untuk terus berkarya.

Semua perjuangan untuk tetap waras dan berprestasi itu akhirnya terbayar lunas di hari kelulusan. Di hari perpisahan itu, aku tidak lagi berdiri di barisan belakang dengan rasa minder. Aku diberi kehormatan untuk berdiri di atas mimbar, memegang mikrofon sebagai perwakilan dari seluruh siswa.

(bersambung ke episode 5)
Episode sebelumnyaEpisode 3
Kamu sudah selesai membaca semua episode. Lihat halaman cerita

Respons

Belum ada respons. Jadilah yang pertama membagikan pemikiranmu.